<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Ruang Kami</title>
	<atom:link href="http://ruangkami.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ruangkami.wordpress.com</link>
	<description>Cari Kami Disini</description>
	<lastBuildDate>Mon, 08 Dec 2008 14:30:49 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='ruangkami.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Ruang Kami</title>
		<link>http://ruangkami.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://ruangkami.wordpress.com/osd.xml" title="Ruang Kami" />
	<atom:link rel='hub' href='http://ruangkami.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Berkorban</title>
		<link>http://ruangkami.wordpress.com/2008/12/08/28/</link>
		<comments>http://ruangkami.wordpress.com/2008/12/08/28/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Dec 2008 14:23:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ruangkami</dc:creator>
				<category><![CDATA[non fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[10 Zulhijjah]]></category>
		<category><![CDATA[idul adha]]></category>
		<category><![CDATA[kisah nabi Ibrahim]]></category>
		<category><![CDATA[Kurban]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ruangkami.wordpress.com/?p=28</guid>
		<description><![CDATA[Bayangkan ketika kita yang begitu mendambakan hadirnya seorang bayi kemudian mendapat perintah dari Allah agar meyembelihnya untuk membuktikan kecintaan kita pada-Nya. Pasti tak seorang pun dari kita bisa membayangkannya apalagi melaksanakan perintah itu. Itulah kisah nabi Ibrahim AS yang diperintahkan Allah untuk menyembelih anaknya yang sedang lucu-lucunya Nabi Ismail AS. Namun ketika perintah itu sedang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ruangkami.wordpress.com&amp;blog=5381656&amp;post=28&amp;subd=ruangkami&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bayangkan ketika kita yang begitu mendambakan hadirnya seorang bayi kemudian mendapat perintah dari Allah agar meyembelihnya untuk membuktikan kecintaan kita pada-Nya. Pasti tak seorang pun dari kita bisa membayangkannya apalagi melaksanakan perintah itu. Itulah kisah nabi Ibrahim AS yang diperintahkan Allah untuk menyembelih anaknya yang sedang lucu-lucunya Nabi Ismail AS. Namun ketika perintah itu sedang dilaksanakan Allah kemudian menggantikan Nabi Ismail dengan seekor domba. <span id="more-28"></span><br />
Ribuan tahun kemudian cerita cinta nabi Ibrahim dengan Sang Khalik ini dikenang setiap tahun oleh ribuan umat muslimin sedunia pada tanggal 10 Zulhijjah dengan menyembelih seekor domba atau sapi atau unta sebagai bukti ketakwaan kita pada Allah SWT. Kita hanya disunnahkan berkurban seekor domba bukan bayi tersayang kita yang lucu.  Tapi terkadang kita begitu berat melaksanakannya. Padahal kita mampu. Tidak terbayangkan apabila kita pada posisi Nabi Ibrahim. Mungkin saat itu kita rela mengorbankan apa saja asal bukan bayi kita. Ratusan sapi atau domba pun akan kita usahakan untuk menggantikannya.<br />
Sekarang disaat kita tidak perlu mengorbankan buah hati kita, tak satu pun domba bisa kita korbankan. Kita memang bukan nabi Ibrahim. Kita hanyalah manusia biasa. Karena itu Allah hanya meminta seekor domba bukan bayi kita.<br />
Allah hanya meminta bukti kecintaan kita pada-Nya yang selama ini kita katakan pada-Nya dengan meminta seekor domba. Masih beratkah?</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ruangkami.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ruangkami.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ruangkami.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ruangkami.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ruangkami.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ruangkami.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ruangkami.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ruangkami.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ruangkami.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ruangkami.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ruangkami.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ruangkami.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ruangkami.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ruangkami.wordpress.com/28/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ruangkami.wordpress.com&amp;blog=5381656&amp;post=28&amp;subd=ruangkami&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ruangkami.wordpress.com/2008/12/08/28/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2980b9842e50f86f5f31c4ab319f88a6?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">ruangkami</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>KEDATANGAN PRITA</title>
		<link>http://ruangkami.wordpress.com/2008/11/14/kedatangan-prita/</link>
		<comments>http://ruangkami.wordpress.com/2008/11/14/kedatangan-prita/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 14 Nov 2008 16:02:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ruangkami</dc:creator>
				<category><![CDATA[fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[fiksi cempaka]]></category>
		<category><![CDATA[kedatangan prita]]></category>
		<category><![CDATA[kepribadian ganda]]></category>
		<category><![CDATA[pribadi ganda]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ruangkami.wordpress.com/?p=25</guid>
		<description><![CDATA[Kalau bukan karena Prita, tentu aku tidak akan mau berada di sini. Prita memaksaku atau lebih tepatnya memohon padaku agar aku tidak datang ke acara rihlah itu. Tentu saja aku tidak akan sanggup menolak jika Prita suah memohon seperti itu. Betapa pun aku ingin pergi. Selama ini Prita selalu bersamaku. Ia ada setiap kali aku [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ruangkami.wordpress.com&amp;blog=5381656&amp;post=25&amp;subd=ruangkami&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-weight:normal;">Kalau bukan karena Prita, tentu aku tidak akan mau berada di sini. Prita memaksaku atau lebih tepatnya memohon padaku agar aku tidak datang ke acara rihlah itu.<span> </span>Tentu saja aku tidak akan sanggup menolak jika Prita suah memohon seperti itu. Betapa pun aku ingin pergi.<span id="more-25"></span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-weight:normal;">Selama ini Prita selalu bersamaku. Ia ada setiap kali aku membutukan teman. Ia tidak pernah menentangku walau aku keliru. Ia hanya tersenyum. Dan sekarang aku berada di sini. Di kamarku. Demi Prita. Untuk Prita yang tidak pernah mengecewakanku. Dan tentu saja tak ingin kukecewakan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:200%;" align="center"><span style="font-weight:normal;">*****</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-weight:normal;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-weight:normal;">“Rihlah kemarin seru, loh. Nyesel kamu nggak ikut, Yo.,” lapor Veni sambil menjejalkan sebuah apem ke mulutnya. Aku tersenyum.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-weight:normal;">“Kuenya enak-enak. Apalagi brownies buatan mama,” lanjutnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-weight:normal;">Aku melihat Prita sedang membayangkan Veni melahap sebagian besar brownies yang dibawanya sendiri. Padahal biasanya kue-kue yang dibawa peserta rihlah akan dikumpulkan untuk dinikmati bersama oleh peserta lain dengan porsi yang sama.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-weight:normal;">“Pemandangan lautnya juga bagus. Airnya biru kehijauan. Aku sempat berenang, loh.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-weight:normal;">Sekarang Prita membayangkan Veni yang gembul nyebur ke laut. Aku dan Prita terkekeh. Veni melotot kearahku. Aku segera sadar. Cepat-cepat aku istighfar. Prita masih kelihatan geli. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-weight:normal;">“Hush!” aku memperingatkan Prita. Anak itu memang nakal. Terkadang ia suka mencemooh orang lain. Masalahnya aku sering terbawa olehnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-weight:normal;">“Maaf, Ven. Aku nggak bermaksud menertawakan kamu, kok. Prita, tuh.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-weight:normal;">Mata Veni menyipit. “Prita?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-weight:normal;">“Ups! Bukan, bukan.” Aku menggigit lidahku sebagai hukuman karena keceplosan. Aku kembali menunjukkan wajah biasa.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-weight:normal;">“Trus, gimana lagi ceritanya?” Aku mengalihkan kembali perhatian Veni sambil menyodorkan sebuah apem lagi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-weight:normal;">Veni menggigit apemnya. Ceritanya mengalir diselingi tawanya yang ringan. Aku mendengarnya dengan iri. Tentu saja aku iri. Sebenarnya aku ingin sekali pergi rihlah kemarin. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-weight:normal;">Setelah kepengurusan rohis selesai priode ini, kami para pengurus demisioner berencana pergi rihlah untuk penyegaran. Aku begitu bersemangat menyambut rencana itu. Namun tiba-tiba Prita muncul dan ia ingin kami berada di rumah saja. Aku berinisiatif mengajaknya tapi seperti biasa Prita menolak. Ia memang selalu menolak jika aku mengajaknya ke acara-acara rohis. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-weight:normal;">“Mungkin lain kali,” jawabnya selalu jika kuajak.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-weight:normal;">“Kapan?” desakku suatu kali.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-weight:normal;">Prita cuma angkat bahu. Bibirnya mengulum senyum. Dan aku harus puas dengan jawaban itu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-weight:normal;">Akhirnya disaat yang lain bergembira di laut, aku cuma di kamarku. Menemani Prita. Mendengarkan luncuran-luncuran keinginan terpendam dari bibirnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-weight:normal;">“Aku lihat T-shirt lucu di majalah. Kayaknya pas banget dengan overall yang kemarin kubeli.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-weight:normal;">Aku pastikan T-shirt itu akan dibelinya tak lama lagi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-weight:normal;">“Trus, aku lihat tas mungil dari Paul Frank. Kiyut banget. Mau nggak temenin aku cari di mal?” ajaknya. Belum sempat aku menjawab, Prita sudah bicara lagi,</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-weight:normal;">“Eh, udah dengar lagunya Avril Lavigne? Uih, keren abis. Avrilnya juga cool banget. Entar aku beli kasetnya, deh. Sekalian CD-nya juga.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-weight:normal;">Aku berharap Prita tidak sungguh-sungguh menginginkan kaset itu. Aku ingat ketika ia membeli kaset Britney Spears. Kaset itu cuma sekali didengarnya. Itu pun tidak sampai habis. Setelah itu Prita meletakkan kaset itu begitu saja di meja belajarku.Prita melarangku menaruhnya di laci.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-weight:normal;">“Siapa tahu aku ingin mendengarnya lagi,” alasannya. Tapi ternyata Prita tidak pernah mendengar lagu itu lagi. Sehingga ketika Kak Ries dan Veni silaturrahim ke kamarku, ketua keputrian rohis kami dan sahabatku itu sempat melihat kaset Britney tersebut. Uh, aku jadi malu hati. Cepat-cepat kusembunyikan kaset itu di laci. Kak Ries cuma geleng-geleng kepala. Sedangkan Veni menunjukkan raut wajah tak suka. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-weight:normal;">“Ngapain sih, kamu dengar lagu-lagu kayak gitu lagi?” semprotnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-weight:normal;">Aku nyengir sambil menggaruk-garuk kepalaku yang pastinya tidak gatal. Tentu saja aku tidak mungkin menyebut nama Prita.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-weight:normal;">“Eh, Yo. Siapa personil F4 yang kamu suka?” Prita menepuk syaraf kesadaranku. Aku tergagap.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-weight:normal;">“Apa?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-weight:normal;">“Ngelamun,” sungut Prita. Lalu wajahnya kembali berubah ceria.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-weight:normal;">‘Vannes kayaknya lucu kali, ya?” lanjutnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-weight:normal;">“He-eh,” aku nyengir. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-weight:normal;">“Yo, kemarin aku juga beli cologne baru. Kamu suka wanginya?” Prita menunjuk cologne itu di meja riasku. Aku melirik sekilas. Entahlah. Pertama kucium kayaknya wanginya enak. Tapi lama-lama….</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-weight:normal;">Aku mendesah. Aku menyesali Prita membeli cologne itu, kaset Britney, juga overall aneh yang sekarang tergantung di lemariku. Aku bukannya tidak pernah menasihati Prita, tapi jika berhadapan dengannya entah kenapa aku jadi lemah. Prita selalu berhasil mengusai titik-titik rawan keimananku. Ia selalu berhasil membujukku ikut mendengar Si Britney, Si Christina, atau Si F4. Tapi syukurlah aku tidak pernah mendengarnya jika ia sudah memprotes jilbab lebarku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-weight:normal;">Prita…. , terkadang aku merasa harus menjauhinya. Karena kusadari sebenarnya ia tengah berusaha menjauhkan aku dari Tuhan. Ia begitu tidak nyata mempengaruhiku hingga aku sering lupa diri. Dan tidak tahu bagaimana aku harus bersikap. Sebagai muslimah.<span> </span><span> </span><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-weight:normal;">*****</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-weight:normal;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-weight:normal;">“Sstt…, Yo, lihat tuh. Cakep banget,” Prita menyenggol lenganku. Memintaku mengikuti arah matanya. Seorang cowok jangkung kulihat sedang besandar di tiang koridor sekolah. Dalam hati aku menyetujui Prita. Tapi….</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-weight:normal;">“Astaghfirullah,” desisku sambil menunduk. Di sampingku Veni mendelik. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-weight:normal;">“Kamu over deh, Yo. Masa kamu ngeliatin cowok sampe kayak gitu,” omelnya pedas.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-weight:normal;">“Masa, sih?” aku tersipu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-weight:normal;">“Kamu pikir aku nggak perhatiin kamu.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-weight:normal;">Aku terdiam. Duh, gara-gara Prita. Anak itu kenapa sih selalu ganggu aku? Please dong, Ta. Aku pengen tobat, nih.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-weight:normal;">“Yo?” Veni menggandeng tanganku. Mengajakku masuk ke kelas dan duduk di bangkuku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-weight:normal;"><span> </span>“Ada apa?” tanyaku setelah Veni duduk di sampingku. Sebenarnya aku sudah bisa menebak ke arah mana pembicaraan ini. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-weight:normal;">“Kemarin kamu nggak datang ke halaqoh. Kenapa?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-weight:normal;">Tuh, bener, kan? Tebakanku tepat. Aku sudah menebak pertanyaan Veni. Lalu aku menyibukkan diri dengan mengambil buku dari tasku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-weight:normal;">“Kamu selalu minta ijin kalau ada keperluan mendadak. Tapi kemarin kamu sama sekali tidak ada kabar. Padahal paginya kamu masih nelpon aku. Bilangin kalau kamu bakal datang. Tahu nggak, Kak Ries sampai khawatir. Takut kamu kenapa-kenapa di jalan. Kak Ries lalu nyuruh aku ke rumah kamu. Ingat kan, kemarin aku malah dapatin kamu sedang tiduran di kamarmu. Ngeliat aku datang kamu cuma nyengir. Ih, kamu itu nyebelin, tahu nggak.” Veni menarik nafas panjang. Aku masih pura-pura menekuri bukuku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-weight:normal;">“Aku masih ingat alasanmu. Kamu bilang Prita datang. Jadi kamu nggak bisa pergi. Kayaknya udah lama aku dengar nama Prita kamu sebut-sebut. Kamu selalu menyebut namanya di alasan kamu kalo kamu nggak pergi ke kajian, rapat rohis atau apalah. Kamu juga pernah bilang ke aku kalo barang-barang ABG di kamarmu itu punya Prita. Juga foto cowok di bindermu, kamu bilang itu mantannya Prita. Siapa sih Prita?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-weight:normal;">Huk! Aku tersedak oleh ludahku sendiri. Prita….</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-weight:normal;">“Teman kamu dari mana, sih? Kok aku nggak pernah lihat? Kamu nggak pernah ngenalin aku dengan dia. Kenapa?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-weight:normal;">Aku menoleh ke arah lain. “Dia tidak ada,” jawabku pelan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-weight:normal;">“Iya. Tapi siapa?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-weight:normal;">Kurasa Veni tidak mendengar kalimatku barusan. Atau ia tidak mengerti? Mungkin dikiranya Prita tidak sedang terlihat di sekolah saat ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-weight:normal;">“Teman.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-weight:normal;">“Yoan!” Teriak Veni tertahan. “Aku tahu dia teman kamu. Tapi cerita dong tentang dia. Siapa kek, kamu kenal di mana, kelas berapa, apa dia anak sekolah ini.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-weight:normal;">Aku memandang Veni dengan sayu. Haruskah aku ceritakan tentang Prita padanya? Tapi itu tidak mungkin. Veni tidak akan paham. Dia pasti akan menganggap aku gila. Prita itu tidak nyata. Dia hanya ada dalam khayalku. Sisi burukku sendiri. Yang kunamai Prita. Tanganku mulai gemetar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-weight:normal;">“Cuma cerita tentang Prita aja susahnya minta ampun. Udah, aku nggak akan tanya-tanya lagi. Tapi ingat ya, Yo. Jangan sebut-sebut nama anak itu lagi.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-weight:normal;">Aku berdiri. Kupandang Veni dengan alis bertaut. Kekesalanku memuncak. Tapi sebenarnya saat ini Pritalah yang sedang marah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-weight:normal;">“Prita itu temanku. Terserah aku mau menyebut namanya sesukaku.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-weight:normal;">“Kok kamu jadi marah gitu, sih?” Veni ikut berdiri.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-weight:normal;">Teman-teman sekelas mulai memperhatikan kami. Sebenarnya aku malu. Tapi tampaknya kemarahan Prita sudah tidak bisa dibendung lagi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-weight:normal;">Kami berhadapan dengan sikap saling menantang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-weight:normal;">“Sikap kamu itu menjelek-jelekkan Prita, tahu?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-weight:normal;">“Aku nggak ngejelekin dia. Aku cuma nggak suka, kamu bergaul sama anak yang masih jahil kayak gitu.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-weight:normal;">“Prita nggak jahil!” Pekikku. Tapi aku sendiri ragu dengan ucapanku sendiri. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-weight:normal;">“Kalau kamu bisa ngarahin dia, bagus deh. Syukur-syukur dia dapat hidayah melalui kamu. Tapi kalau gara-gara dia kamu jadi futur, aku nggak rela.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-weight:normal;">“Jangan ngomong kayak gitu tentang Prita,” sergahku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-weight:normal;">“Terserah. Nyatanya udah berapa kali kamu bolos ngaji? Aku peringatkan kamu, Yo. Jauhi Prita. Kayaknya kamu nggak bisa mewarnai dia. Malah kamu yang terwarnai dia. Demi kebaikan kamu, jauhi anak itu.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-weight:normal;">Rahangku mengeras. “Pergi kamu dari bangkuku. Jangan duduk lagi sebangku denganku,” usirku kejam.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-weight:normal;">Veni menatapku lama sebelum ia meraih tasnya. Sepertinya ia pun sangat marah. Tapi aku senang. Aku tidak peduli dengannya. Enak saja Veni ngomong. Jauhi Prita? No way! Lebih baik Veni yang jauh-jauh. Kulihat Prita tersenyum penuh kemenangan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:200%;" align="center"><span style="font-weight:normal;">*****</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-weight:normal;">Prita tersenyum manis ke arahku yang sedang terisak-isak memeluk bantal.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-weight:normal;">“Kehilangan teman kayak si gendut itu nggak akan berarti apa-apa.” Bujukan lembut Prita menusuk-nusuk hatiku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-weight:normal;">“Kamu jahat, Ta. Nggak seharusnya kamu membuat aku dan Veni bertengakar. Dia anak baik. Tujuannya juga baik. Kata-katanya benar.” Aku mngusap air mataku yang mengalir deras.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-weight:normal;">“Jadi kamu setuju untuk menjauhi aku? Kamu tega ngusir aku?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-weight:normal;">Aku merapatkan gigiku sebelum menjawab. “Iya. Iya. Kamu tuh nggak baik kujadikan sahabat. Kamu dengar itu? Kamu selalu berusaha menjauhkan aku dari saudara-saudaraku di rohis. Kamu selalu memohon padaku agar aku tidak pergi ke halaqoh. Bahkan tadi kamu menyulut pertengkaran aku dan Veni. Aku tahu kamu sedang berusaha menjauhkan aku dari Allah. Iya, kan?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-weight:normal;">“Sstt…, jangan sebut nama itu,” bisik Prita di telingaku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-weight:normal;">Aku mendorongnya. “Pergi! Pergi kamu!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-weight:normal;">“Jangan kasar, Yo. Aku kan temanmu.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-weight:normal;">“Bukan!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-weight:normal;">“Coba, siapa yang selalu berada didekatmu kalau kamu sedang sendirian? Kalau kamu sedang sedih, di mana teman-teman rohis yang selalu kamu bangga-banggakan itu? Siapa yang selalu menghiburmu? Siapa yang selalu bisa mengembalikan tawamu. AKU.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-weight:normal;">“Tapi kamu membuatku futur.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-weight:normal;">“Aku cuma sedang menghiburmu.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-weight:normal;">“Dengan jalan-jalan di mal? Borong baju aneh-aneh yang selalu kamu bujuk aku memakainya? Borong kaset dan vcd Britney, Westlife, F4, dan entah siapa lagi. Maksa aku baca majalah kalo aku pengen ngapal quran. Gitu?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-weight:normal;">“Tapi kamu senang kan?” Prita memojokkanku. Masih dengan gayanya yang santai.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-weight:normal;">“Kamu meracuniku!” Jeritku geram.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-weight:normal;">Prita menatapku tajam. Senyumnya hilang. “Sebetulnya kamulah yang memanggilku.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-weight:normal;">“Sekarang aku ingin kamu pergi.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-weight:normal;">“Tidak mau!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-weight:normal;">“Pergi!” Aku melempar bantal ke cermin besar yang tergantung di balik pintu di depanku. Tempat aku melihat Prita.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-weight:normal;">“Kamu tidak bisa begitu saja mengusirku. Kamu yang mengundangku. Kamu yang memintaku menjadi temanmu Sekarang seenaknya saja kamu menyuruhku pergi. Tidak segampang itu, Yoan. Aku tidak akan mau.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-weight:normal;">“Aku mohon pergilah,” isakku. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-weight:normal;">“Aku tidak akan pergi sebelum kamu melupakan satu hal.” Prita memandangku tajam. Aku bergidik.<span> </span>Aku menjauh ke sudut ketika Prita mendekatiku. Aku takut.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-weight:normal;">“Jangan dekati aku.” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-weight:normal;">“Cuma satu hal, Yoan.” Sekarang Prita duduk di hadapanku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-weight:normal;">Aku tidak berani bertanya apa itu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-weight:normal;">“Tuhanmu.” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-weight:normal;">“Tidak!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-weight:normal;">“Lupakan.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-weight:normal;">“Tidak mau.” Aku menggeleng-gelengkan kepalaku. Kututup kedua telingaku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-weight:normal;">“Bayangkan, Yoan. Kamu akan terbebas dari pakaian yang mengurungmu itu. Kamu bisa memperlihatkan rambutmu yang bagus. Laki-laki akan memperhatikanmu. Rasakan indahnya dikagumi oleh mereka. Menjadi pujaan,<span> </span>menjadi bintang.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-weight:normal;">“Tidak,” ratapku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-weight:normal;">“Kamu tidak perlu lagi membuka-buka quranmu itu. Memaksa otakmu yang lemah menghapal ayat-ayat sepanjang itu. Kamu juga tidak perlu lagi menghadap Tuhanmu lima kali sehari. Kamu harus meninggalkan pekerjaanmu setiap kali azan memanggil. Sangat merepotkan, bukan? Lalu setiap minggu kamu harus pergi kajian. Apa namanya? Halaqoh? Duduk berjam-jam mendengarkan materi yang membosankan, hingga kakimu kesemutan. Padahal sebenarnya kamu bisa bersenang-senang. Jalan-jalan, makan di café, nonton, borong. Atau mencoba cari pasangan. Wow! Sangat mengasyikkan, Yo. Let’s fun!’</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-weight:normal;">Aku menelungkupkan tubuhku di kasur. Kepalaku kututup dengan bantal.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-weight:normal;">“Pergi,” gumamku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-weight:normal;">‘Tidak.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-weight:normal;">Kesabaranku punah. Aku bangkit. Kulempar semua bantal dan guling sambil menyuruhnya pergi. Kulepaskan bedcover dengan kasar. Prita cuma tersenyum. Aku semakin geram. Kuambil tumpukan majalah remaja di kolong tempat tidurku. Kulempar ke cermin dimana kulihat Prita masih tersenyum. Kubuka lemari. Kuraup semua pakaian-pakaian mini berwarna norak. Kulempar semuanya. Juga cologne, parfum, dan alat-alat kosmetik yang mengingatkanku pada penyanyi keyboard dari kampung. Aku menatap nanar ke arah Prita yang kini tengah tertawa terbahak-bahak.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-weight:normal;">“Kamu pasti akan repot menyimpannya kembali,” kata Prita di sela tawanya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-weight:normal;">“Aku akan membuangnya. Dengar Prita? Aku akan membuangnya dan kubakar sekalian.” Aku mengumpulkan barang-barang yang berserakan itu di atas seprei. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-weight:normal;">“Jangan.” Prita menghentikan tanganku. Cepat-cepat kutepis. Prita harus tahu aku sungguh-sungguh. Ia sudah cukup mempengaruhiku. Sekarang takkan kuijinkan ia mengangguku lagi. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-weight:normal;">Memang, berat rasanya menjauhi Prita. Apalagi saat ini ia tengah menangis sambil menahan tanganku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-weight:normal;">“Jangan, Yo. Sayang. Semuanya masih bagus.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-weight:normal;">Aku diam saja. Aku masih mengumpulkan barang-barang itu. Akhirnya buntelan besar itu kuletakkan di sudut kamar. Aku tidak tahu harus melakukan apa terhadap barang-barang itu. Menjualnya ke loakan sama saja membiarkan orang lain menggunakannya. Aku tidak mau ikut memikul dosa. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-weight:normal;">Dengan terengah-engah aku terduduk di lantai. Tidak henti-hentinya aku mengucap istighfar. Prita masih menangis. Dia kelihatan menyedihkan. Ah, kasihan melihatnya. Ups, aku tidak boleh mengasihaninya. Tapi ya Tuhan, aku sedih. Dengan perlahan kuraih alquran. Dengan lirih kubaca ayat demi ayat. Tangis Prita semakin memilukan. Dia berusaha mengambil alquran itu dari tanganku. Tapi aku terus menepisnya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-weight:normal;">Akhirnya Prita pergi. Tapi aku yakin suatu saat ia pasti akan kembali lagi. Menggodaku lagi. Entah sampai kapan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:200%;" align="center"><span style="font-weight:normal;">*****</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-weight:normal;"> </span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ruangkami.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ruangkami.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ruangkami.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ruangkami.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ruangkami.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ruangkami.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ruangkami.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ruangkami.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ruangkami.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ruangkami.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ruangkami.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ruangkami.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ruangkami.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ruangkami.wordpress.com/25/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ruangkami.wordpress.com&amp;blog=5381656&amp;post=25&amp;subd=ruangkami&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ruangkami.wordpress.com/2008/11/14/kedatangan-prita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2980b9842e50f86f5f31c4ab319f88a6?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">ruangkami</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Gelas-Gelas Berdenting</title>
		<link>http://ruangkami.wordpress.com/2008/11/08/gelas-gelas-berdenting/</link>
		<comments>http://ruangkami.wordpress.com/2008/11/08/gelas-gelas-berdenting/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 08 Nov 2008 15:40:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ruangkami</dc:creator>
				<category><![CDATA[non fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[gelas berdenting]]></category>
		<category><![CDATA[indra dewaji]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[sakaratul maut]]></category>
		<category><![CDATA[surga neraka]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ruangkami.wordpress.com/?p=22</guid>
		<description><![CDATA[Gelas-gelas surga berdenting, beradu, menjadi sebuah harmoni. Sungai-sungai mengalir, menyejukkan, menentramkan. Buah-buahan menjadi rezeki yang kekal. Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu. Balasan dari penghambaan yang telah œkami  nyatakan. Penghambaan yang tak samar, tergores dalam amal. Dikala kedatangan kami disambut bidadari-bidadari yang tak terupakan di dunia. Tak terbandingkan dari apa yang pernah terlihat. Yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ruangkami.wordpress.com&amp;blog=5381656&amp;post=22&amp;subd=ruangkami&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Gelas-gelas surga berdenting, beradu, menjadi sebuah harmoni. Sungai-sungai mengalir, menyejukkan, menentramkan. Buah-buahan menjadi rezeki yang kekal. Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu. Balasan dari penghambaan yang telah œkami  nyatakan. Penghambaan yang tak samar, tergores dalam amal. Dikala kedatangan kami disambut bidadari-bidadari yang tak terupakan di dunia. Tak terbandingkan dari apa yang pernah terlihat. Yang setetes air mulutnya dapat memaniskan asinnya lautan dunia. Perjalanan menuju sebuah istana nan megah gemerlap cahaya. Namun, semua kebahagiaan itu hanya dimiliki oleh golongan yang menghamba.<br />
<span id="more-22"></span><br />
Jerit tangis penyesalan, terdengar memilukan. Panas yang tersentuh di telapak kaki, mendidihkan ubun-ubunya. Siksaan nan pedih, tak terperikan. Rasa sakit yang tak pernah terasakan. Di kerak api tak dapat berlari.</p>
<p>Ketika manusia telah diingatkan. Bahkan Sang Pencipta pun telah bersumpah kepada bukit. Dan pula bersumpah kepada kitab yang pernah ditulis, diturunkan melalui malaikat. Dari lembaran-lembarannya yang terbuka, dengan keindahan ayat-ayatnya. Bahwa sesungguhnya adzab dari Sang Pencipta pasti akan datang, dan tiada sesiapa pun mampu menolaknya. Pada hari ketika langit benar-benar terguncang, dan gunung-gunung berjalan. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang mendustakan. Orang-orang yang bermain-main dalam kebathilan. Bermain-main dalam kedustaan.</p>
<p>Ketika ruh dipisahkan dengan jasad. Ketika nyawa dicabut dari urat-urat, tulang hidung dan ujung-ujung jari. Rasa kematian yang sangat menyakitkan. Kematian yang paling mudah pun adalah serupa dengan sebatang pohon duri yang menancap di selembar kain sutra. Apakah batang pohon duri itu dapat diambil tanpa membawa serta bagian kain sutra yang terkoyak? Tak ada satu pembuluh pun yang tidak merasakan pedihnya derita kematian. Seandainya seutas rambut dari orang yang sudah mati diletakkan di atas para penghuni langit dan bumi, niscaya dengan izin Allah SWT, mereka akan mati karena maut berada di setiap utas rambut, dan tidak pernah jatuh pada sesuatu pun tanpa membinasakannya. Manusia pasti akan merasakan derita dan rasa sakit kematian dan sesungguhnya sendi-sendinya akan mengucapkan selamat tinggal satu sama lain, seraya berkata, Ã‚â€Sejahteralah atasmu; sekarang kita saling berpisah hingga datang hari kiamat.Ã‚â€ Siapkah kita menghadapinya?</p>
<p>Sesungguhnya Allah SWT tidak menciptakan manusia dengan sia-sia dan diacuhkan, tetapi Dia membebankan kewajiban kepada mereka, memberikan perintah dan larangan, menurut petunjuk/hidayah berupa kitab suci dan mewajibkan mereka memahami petunjukNya, baik secara terperinci atau pun tidak.</p>
<p>Allah SWT menciptakan manusia dengan sebaik-baiknya bentuk. Dalam penciptaannya ia dilengkapi dengan segenap perangkat yang dapat dijadikan alat untuk membantunya menjalankan kewajiban yang berada dipundaknya sebagai khalifah di muka bumi. Perangkat tersebut berupa jasad, ruh, akal, nafsu, dan hati, yang kesemuanya itu merupakan nikmat dari Allah SWT. Maka, barangsiapa yang menggunakan perangkat tersebut untuk ketaatan kepadaNya, dan dengannya ia melalui jalan sehingga memahami petunjukNya serta tidak mendurhakaiNya, maka ia bersyukur atas segala pemberian di atas menuju keridlan Allah SWT. Sebaliknya siapa yang menggunakannya sesuai kehendak hawa nafsunya, tidak memelihara hak penciptaannya, niscaya ia termasuk orang-orang yang merugi.</p>
<p>Kembali kita harus mengingat, bahwa dunia hanyalah sebuah terminal perhentian. Perjalanan selanjutnya masihlah panjang. Kehidupan setelah kehidupan akan dihadapi dalam kekekalan. Kekekalan yang dapat dihentikan hanya dengan kehendak pemilik kekekalan mutlak, Rabb Sang Pencipta. Demi hidupmu! Tak berguna lagi harta benda bagi manusia. Ketika dia merasakan sakaratul maut, dan rongga dadanya tersesak. Betapa banyak wajah kian memutih. <strong>Hingga burung-burung merpati menyangkanya awan.</strong></p>
<p>Rabb pemilik sekalian alam telah kembali mengingatkan, Ã‚â€œKamu sekalian datang kepada Kami dengan sendiri-sendiri seperti ketika Kami menciptakan kamu semua untuk pertama kalinya, setelah semua kamu semua meninggalkan yang Kami anugerahkan kepadamu. Kami tidak melihat bersamamu para pemberi syafaatmu yang kamu katakan memiliki saham bersamamu. Sekarang ikatan di antaramu sudah terputus, dan hal yang kamu kira itu tidak benar.Ã‚â€ Siapkah kita menghadapi kesendirian dalam pertanggunjawaban.</p>
<p>Manusia telah mendapatkan petunjuk dalam kehidupan. Hukum-hukum Allah memberikan harmonisasi kehidupan. Ketentraman hati dan akal akan terpuaskan. Namun, manusia memang bodoh. Masih saja manusia melirik terhadap kesesatan. Mengikuti hawa nafsu yang bias. Ajakan syaithan yang dapat memberikan siksaan yang pedih, ternyata lebih senang untuk ditaati. Kenikmatan sementara dalam terminal kehidupan, menjadikan dirinya berbangga akan kesenangannya. Namun dia lupa, ajal akan menjelang. Kehidupan abadi pun akan dijelang.</p>
<p>Akankah kah hidup kita akan berbalas siksa, atau kah hidup kita akan berbalas kenikmatan? Sesungguhnya kamu semua pasti akan mati dan mereka pun akan mati. Kemudian pada hari kiamat kamu semua akan berselisih di depan Rabbmu. Dosa-dosa akan dikembalikan kepadamu, sampai kamu mengembalikan kepada setiap orang hak yang dimilikinya.</p>
<p>Takutlah kepada dahsyatnya hari saat tak satu pun langkah yang akan diabaikan, tak satu pun pukulan atau sepatah kata pun yang dilewatkan, agar korban-korban kedzhaliman menuntut balas terhadap orang-orang yang mendzhalimi mereka. Di hari itu, Allah SWT berfirman dengan firman yang terdengar sampai jauh sebagaiman ia terdengar dari dekat, Ã‚â€œAku adalah Raja! Aku adalah penagih utang! Tidaklah layak penghuni surga yang mana pun untuk masuk surga, padahal salah seorang dari penghuni neraka pernah didzhalimi olehnya, kecuali jika orang itu telah menuntut balasnya; tidak patut pula bagi penghuni neraka yang mana pun untuk masuk neraka padahal ia masih mempunyai keluhan terhadap seseorang dari penghuni surga, sampai dia memperoleh kesempatan untuk membalasnya walau tak lebih dari satu tamparan.Ã‚â€</p>
<p>Takutkah kita akan hari pembalasan? Dimana semua amal baik dan buruk dipertunjukkan. Tak ada satu pun yang dapat mendustakan. Ketika ia mendustakan Allah di dunia. Jauh dari syariat Allah. Melecehkan dan menginjak-injak hukum Allah. Dan bahkan membenci Allah dan ummatnya. Ingatkah kita ketika Allah menjanjikan balasannya di neraka yang sangat pedih? Ketika para penghuni yang mendustakan kehausan, maka masing-masing akan diberi air nanah, yang akan direguknya, hampir-hampir dia tidak mampu menelannya, dan maut mendatangi mereka dari setiap sisi, tapi dia tidak bisa mati. Dan ketika mereka menjerit minta tolong, maka mereka akan diguyur dengan air yang panasnya bagai timah cair, dan membakar muka mereka. Inilah seburuk-buruk minuman, dan seburuk-buruk tempat tinggal yang kotor.</p>
<p>Rasa lapar akan ditimpakan atas penghuni neraka sehingga menyamai siksaan yang sedang mereka rasakan. Mereka akan menjerit meminta makanan, dan mereka diberi makanan dari pohon berduri yang pahit, yang tidak menggemukan ataupun mengenyangkan. Sekali lagi mereka akan menjerit meminta makanan, dan mereka pun diberi makanan yang mencekik leher mereka. Seketika itu juga mereka akan ingat ketika di dunia, mereka biasa menghilangkan rasa tercekik di tenggorokan dengan cara minum air. Mereka pun lalu menjerit meminta minum, dan dengan penjepit dari besi, diantarkanlah kepada mereka air yang mendidih. Namun ketika dekat dengan mereka, ditumpahkanlah air itu ke wajah mereka, dan ketika minuman telah mencapai ke perut mereka, maka tercabik-cabiklah isi perut mereka. Setelah itu mereka berkata, Ã‚â€œPanggilah para penjaga neraka!Ã‚â€ dan mereka pun memohon, Ã‚â€œMintakan kepada Tuhan kalian agar meringankan siksaan walau sehari!Ã‚â€ Akan tetapi mereka menjawab, Ã‚â€œTidakkah utusan-utusan telah datang kepadamu dengan bukti-bukti yang nyata?Ã‚â€ Ã‚â€œYaÃ‚â€, jawab mereka. Para penjaga neraka berkata, Ã‚â€œBerdoalah sendiri, dan doa orang-orang kafir hanyalah kesiasiaan belaka.Ã‚â€ Kemudian para penghuni neraka itu berkata, Ã‚â€œPanggilah Malik!Ã‚â€ dan mereka pun memanggilnya, Ã‚â€œWahai Malik, biarlah Tuhanmu mengakhiri hidup kami saja!Ã‚â€ Akan tetapi, Malik memberikan jawaban kepada meraka, Ã‚â€œKalian semua akan tetap tinggal dalam keadaan seperti ini.Ã‚â€</p>
<p>Itu hanyalah sebagian penderitaan yang akan dialami oleh orang-orang yang mendustakan Allah dan Rasulnya. Mereka buta dan tuli dari ayat-ayat Allah. Melupakan penguasa sebenarnya. Merasa dirinyalah yang menguasai apa yang dia inginkan. Berbuat kedzhaliman, dan merasa perbuatan mereka hanyalah sebuah hak yang dapat mereka lakukan. Mereka merasa aturan hidup yang dibuat oleh manusia lebih baik dari hukum Allah. Mereka menjadikan Allah hanya sebuah bahan perbincangan dalam sebuah percandaan. Sungguh, mereka akan mendapatkan balasannya!</p>
<p>Namun Ã‚â€œmerekaÃ‚â€ itu bisa menjadi Ã‚â€kitaÃ‚â€ . Boleh jadi kita telah mendustakan Allah, walaupun tidak kita sadari. Atau pun bahkan kita menyadari dengan sesadar-sadarnya pendustaan itu. Hal-hal yang haram menjadi halal, dan yang halal yang menjadi haram. Al Quran hanya dianggap sebuah perkataan syair yang jika ditinggalkan, hanyalah sebuah karya sastra yang tak bermakna. Benarkah kita seperti itu? Sadarkah kita? Benarkah kita telah berhukum hanya terhadap hukum Allah saja? Apakah kita masih menganggap hukum jahiliyah yang lebih baik dari hukum Allah? Apakah kita masih mau berhukum dengan hukum-hukum buatan kaum kafir? Ataukah mulut kita telah terpenuhi dengan kata-kata baik dari amalan Al Quran? Telinga kita digunakan untuk mendengarkan suara-suara yang datangnya hanya dari Al Quran? Mata kita hanya digunakan pada pandangan-pandang yang dihalalkan melalui Al Quran? Perut kita isi dengan makanan yang baik lagi halal menurut pandangan Allah? Atau kah gerak langkah kita, hanyalah bentuk pengamalan dari Al Quran? Neraka atau surgakah balasan perbuatan kita? Sungguh, segala jawaban itu tak perlu kita tunggu sampai ajal menjelang. Boleh jadi ajal akan kita hadapi dalam detik-detik selanjutnya. Atau boleh jadi ajal akan kita temui dikala usia kita sudah senja. Namun sudah siapkah kita menghadapinya?</p>
<p>Semoga kita tergolong dalam golongan orang-orang yang mendapatkan surga Allah. Amin.</p>
<p>by: Indra Dewaji<br />
Ditulis dari rangkaian Hadits, Al Quran, dan kisah-kisah.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ruangkami.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ruangkami.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ruangkami.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ruangkami.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ruangkami.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ruangkami.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ruangkami.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ruangkami.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ruangkami.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ruangkami.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ruangkami.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ruangkami.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ruangkami.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ruangkami.wordpress.com/22/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ruangkami.wordpress.com&amp;blog=5381656&amp;post=22&amp;subd=ruangkami&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ruangkami.wordpress.com/2008/11/08/gelas-gelas-berdenting/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2980b9842e50f86f5f31c4ab319f88a6?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">ruangkami</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Jazzy Glow</title>
		<link>http://ruangkami.wordpress.com/2008/11/08/jazzy-glow/</link>
		<comments>http://ruangkami.wordpress.com/2008/11/08/jazzy-glow/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 08 Nov 2008 15:36:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ruangkami</dc:creator>
				<category><![CDATA[feasy]]></category>
		<category><![CDATA[jazzy glow]]></category>
		<category><![CDATA[lukisan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ruangkami.wordpress.com/?p=20</guid>
		<description><![CDATA[Lukisan itu hampir pudar. Tapi pria tua berjangkut putih disebelahku terus menatap lukisan itu tanpa kedip. Sudah hampir satu jam ia memperhatikan lukisan vas yang tidak jelas warnanya itu. Apa sih menariknya lukisan itu, pikirku. Lukisan vas bunga tanpa bunga. Aku menarik nafas. Aku mencoba tidak peduli. Aku ingin keluar saja dari pameran lukisan ini [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ruangkami.wordpress.com&amp;blog=5381656&amp;post=20&amp;subd=ruangkami&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><span style="color:#993366;">Lukisan itu hampir pudar. Tapi pria tua berjangkut putih disebelahku terus menatap lukisan itu tanpa kedip. Sudah hampir satu jam ia memperhatikan lukisan vas yang tidak jelas warnanya itu. Apa sih menariknya lukisan itu, pikirku. Lukisan vas bunga tanpa bunga. Aku menarik nafas. Aku mencoba tidak peduli. Aku ingin keluar saja dari pameran lukisan ini dan menghirup udara segar di luar sana.</span></strong></p>
<p><span id="more-20"></span><br />
<strong><span style="color:#993366;">“Jazzy Glow.”</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#993366;">Aku menoleh. Pria tua itu bergumam. Namun aku dengan jelas mendengar suaranya. Jazzy Glow. Apa maksudnya?</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#993366;">Pria tua itu menoleh kearahku. Kami jadi saling berpandangan.</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#993366;">“Lukisan yang indah, bukan?” katanya.</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#993366;">Aku meringis. Aku tidak mengerti lukisan. Apalagi lukisan pudar.</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#993366;">“Vas bunga tanpa bunga. Seperti manusia tanpa cinta. Tidak ada keindahan sama sekali. tiada arti, tiada kehidupan.”</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#993366;">Aku mengernyitkan dahi. Aku semakin bingung. Apa pria tua itu bicara padaku? Tapi ia memandangku. Mungkin dia bicara padaku.</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#993366;">Dia mendekatiku. Dengan sapu tangannya dia menyentuhku.</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#993366;">“Kasihan kau,” katanya. “Seharusnya kau ada di dalam lukisan itu. Kau pasti akan menemukan maknamu dan vas itu pun akan semakin indah.”</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#993366;">Dia membalutku di dalam sapu tanganya dan menaruhku di sakunya.</span></strong></p>
<p align="left"><strong><span style="color:#993366;">Aku tersenyum. Di sini hangat sekali. Tidak sedingin lantai berdebu itu. Aku sekali lagi menatap lukisan itu sebelum pria tua yang membawaku melangkah pergi. Ya, seharusnya aku berada di lukisan itu. Berada di vas pudar itu. Aku pasti lebih berarti. Dan vas itu tidak sekosong sekarang. Tapi pria tua ini telah mengambilku dari lantai berdebu itu. Walau sebentar lagi aku akan layu, aku tidak menyesal. Pria tua ini telah memberiku sebuah nilai. Di dalam sapu tangannya dan di dalam sakunya aku merasa tentram. Dan aku rela layu di sini. Di dekat dadanya, didekat detak jantungnya.</span></strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ruangkami.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ruangkami.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ruangkami.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ruangkami.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ruangkami.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ruangkami.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ruangkami.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ruangkami.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ruangkami.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ruangkami.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ruangkami.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ruangkami.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ruangkami.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ruangkami.wordpress.com/20/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ruangkami.wordpress.com&amp;blog=5381656&amp;post=20&amp;subd=ruangkami&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ruangkami.wordpress.com/2008/11/08/jazzy-glow/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2980b9842e50f86f5f31c4ab319f88a6?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">ruangkami</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>SUARAMU SERINGAN UDARA</title>
		<link>http://ruangkami.wordpress.com/2008/11/07/suaramu-seringan-udara/</link>
		<comments>http://ruangkami.wordpress.com/2008/11/07/suaramu-seringan-udara/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 07 Nov 2008 12:00:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ruangkami</dc:creator>
				<category><![CDATA[fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[kanker darah]]></category>
		<category><![CDATA[kemoterapi]]></category>
		<category><![CDATA[leukemia]]></category>
		<category><![CDATA[Suaramu seringan udara]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ruangkami.wordpress.com/?p=17</guid>
		<description><![CDATA[“Aku akan mati.” Kata-kata Vin membuat nafas Liza berhenti beberapa detik. Liza terperangah memandang Vin. Jadi untuk mendengar kata-kata itu Vin mengajakku bicara? batin Liza. Vin mengarahkan wajahnya ke arah lain untuk menghindari tatapan Liza. Sejenak suasana menjadi hening di kamar itu. Liza tertawa kecil sekedar menghargai lelucon Vin. “Pin ini manis sekali, Vin,” puji [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ruangkami.wordpress.com&amp;blog=5381656&amp;post=17&amp;subd=ruangkami&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">“Aku akan mati.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">Kata-kata Vin membuat nafas Liza berhenti beberapa detik. Liza terperangah memandang Vin. Jadi untuk mendengar kata-kata itu Vin mengajakku bicara? batin Liza. Vin mengarahkan wajahnya ke arah lain untuk menghindari tatapan Liza. Sejenak suasana menjadi hening di kamar itu. Liza tertawa kecil sekedar menghargai lelucon Vin.<span id="more-17"></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">“Pin ini manis sekali, Vin,” puji Liza sambil menyentuh pin bunga matahari di baju Vin.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">“Kalau aku mati, kau akan menangis, Liz?” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">Nafas Liza berhenti beberapa detik lagi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">“Kau ngomong apaan, sih?” Kali ini Liza agak kesal. Kematian kok dibuat candaan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">Vin menjawab dengan sorot matanya yang sendu. Liza baru sadar ada lingkaran hitam di sekeliling mata sahabatnya itu. Kenapa aku baru lihat sekarang? kata hati Liza. Apa Vin kurang tidur? Kurang darah? Anemia? </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">Vin bangkit. Dari laci mejanya ia mengeluarkan sebuah amplop. Vin menyerahkannya pada Liza. Liza membaca kertas di dalamnya. Kali ini bukan hanya nafasnya yang berhenti tapi aliran darahnya pun ikut berhenti. Tangannya gemetar ketika meletakkan kertas itu di meja. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">“Senin depan aku harus masuk rumah sakit. Dokter bilang aku harus memulai kemoterapi pertamaku.” Kata-kata Vin meluncur mulus dari bibirnya seolah tanpa hambatan. Liza heran, kok bisanya Vin setenang itu. Leukemia bukan penyakit<span> </span>biasa. Dokter saja lagi pusing mikirin obatnya, kata hati Liza lagi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">“Kasihan bunda. Dia akan sendirian.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">Vin menoleh ke arah Liza.<span> </span>“Kau kenapa diam saja?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">Liza menggeleng. Dia tidak kuasa mengangkat wajahnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">“Hei, kenapa menangis?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">Pertanyaan bodoh, Vin.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">“Liza?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">Liza menabrak Vin dan memeluknya kuat-kuat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">“Jangan bicara soal mati lagi, Vin,” katanya terisak.<span> </span>“Kau nggak boleh mati.” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:200%;" align="center"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">*****</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;"><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">Sinar matahari sore membias ke seluruh permukaan cakrawala. Awan putih yang membara bergumpal bagai selimut tebal. Angin kering musim kemarau berhembus pelit. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">Liza dan Vin menyusuri trotoar dengan langkah-langkah kecil. Semenjak dari perkuburan ayahnya, Vin tidak bicara sepatah kata pun. Sesekali Liza melirik sahabatnya. Menanti satu kata keluar dari bibirnya. Tapi yang dilihatnya adalah Vin yang pendiam sedang menangadahkan kepalanya memandang langit. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">Lagi-lagi Liza menyadari perubahan fisik Vin yang selama ini dikiranya karena anemia biasa. Timbangannya yang berangsur-angsur turun, wajahnya yang pucat, rasa nyeri yang dikeluhkannya akhir-akhir ini, semuanya menjadi jelas. Rasanya tak percaya penyakit mengerikan itu tengah menggerogoti hidup sahabatnya pelan-pelan hingga habis tak tersisa.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">Liza memejamkan matanya. Sekuat tenaga ia berusaha mengenyahkan pikiran buruk itu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">“Hei! Kok diam aja, sih?” Liza menyenggol lengan Vin untuk mengajaknya bicara. Kediaman Vin membuatnya sedih.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">“Ujian akhir sebentar lagi. Kau ingin kuliah di jurusan apa, Vin?” tanya Liza seolah-olah tak terjadi apa-apa.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">“Aku mau jadi dokter,” sahut Vin sambil menerawang. Tapi tiba-tiba Vin tertawa kecil. “Nggak, ah. Masa dokternya penyakitan. Siapa yang mau berobat dengan dokter seperti itu.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">“Jangan menertawakan cita-cita. Itu impian yang kau punya. Dengan itu kau punya alasann untuk hidup. Harapan takkan pernah mati, Vin.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">Vin berhenti tertawa.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">“Kalau aku mati, kau akan menangis, Liz?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">Liza menarik nafas berat lalu mengehembuskannya dengan keras.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">“Nggak.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">Vin menoleh ke arah Liza. Ia terkejut dengan jawaban spontan dari sahabatnya itu. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">“Buat apa menangisi orang yang tidak punya keberanian untuk hidup?” lanjut Liza dengan tenang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">“Tapi penyakitku….”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">“Kita akan berjuang sama-sama.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">“Kita?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">“Penyakit itu akan kalah. Kita lihat saja.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">Liza tersenyum. Namun sebenarnya hatinya menangis. Ia putus asa namun tidak ingin Vin tahu. Sebaliknya Vin hanya ingin menghitung detik-detik yang tersisa. Ia tahu tak ada yang dapat dilakukan. Ia akan mati lebih cepat dari yang diperkirakannya. Vin teringat ayahnya. Ayah, bagaimana rasanya mati? tanyanya dalam hati.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:200%;" align="center"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">*****</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;"><span> </span>Hari ketiga di rumah sakit. Dia sendirian. Liza baru saja pulang. Dan Bunda yang biasa menemaninya harus pulang sebentar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">Tiba-tiba Vin merasa mual. Ia ingin muntah tapi tidak ada yang keluar. Vin merasa tersiksa kalau sudah begini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">“Minum ini.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">Vin menoleh. Seorang gadis berjilbab menyodorkan segelas air kepadanya. Dia bukan perawat. Dia pasien sama sepertinya. Pakaian mereka sama.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">Vin menerimanya dan meneguknya hingga tandas.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">“Makasih,” ucapnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">“Tadi yang baru pulang ibumu, ya?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">Vin mengangguk. Ia memperhatikan gadis yang lumayan cantik itu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">“Aku juga lihat temanmu. Kalian pasti bersahabat karib.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">Sekali lagi Vin mengangguk.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">“Namaku Rana. Namamu?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">“Vin.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">Vin menyambut uluran tangan Rana. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">‘Tempat tidurku di sebelah. Aku baru tiba tadi malam.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">“Kau juga kena leukemia?” tanya Vin sekedar basa-basi. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">Rana mengangguk. “Rumah sakit ini langgananku.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">Vin mengernyitkan dahinya. Rana tertawa.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">“Kalau kau kena leukemia, kau harus bolak-balik menjalani kemoterapi. Selama kemo, kau harus dirawat di rumah sakit. Bisa dua minggu, sebulan, atau berbulan-bulan.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">“Oh.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">“Aku pernah empat bulan di rumah sakit ini. Jangan tanya rasanya. Kau pasti tidak ingin tahu. Sekarang aku harus menjalani kemo lagi. Yah, tak apa-apa. Yang penting aku bisa sembuh.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">“Kau yakin bisa sembuh?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">“Tentu saja.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">“Kau tabah sekali,” ujar Vin pelan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">“Hanya itu yang aku bisa. Lagipula aku ingin Allah memasukkan aku ke surga bersama orang-orang yang sabar.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">Rana membulatkan matanya dengan lucu. “Mau kuberitahu sebuah rahasia?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">Vin menatap Rana bingung.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">“Aku belajar bahwa dengan kesabaran kita bisa bahagia.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">“Oya?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">“Tentu saja. Kebahagiaan adalah harta yang tak terbeli. Bagi orang-orang seperti kita, kebahagian sangat sulit didapat di antara rasa sakit. Satu-satunya cara untuk memperolehnya adalah dengan sabar. Cobalah, Vin sayang.” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">Vin menunduk. “Kalau begitu, ajarkan aku.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">“Mudah. Ingatlah bahwa Allah sedang mengawasimu. Ketika kau sedang merasakan denyut sakitmu, sebutlah nama-Nya sebanyak denyutan itu. Kemudian kau akan tahu sesuatu.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">“Apa itu?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">“Bahwa kau bahagia.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">Vin tertegun memikirkan kata-kata Rana. Bahagia di saat rasa sakit menyerang?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">Rana menepuk tangan Vin sebelum dia kembali ke tempat tidurnya yang berada di sebelah tempat tidur Vin. Pemisahnya hanyalah selembar tirai biru muda.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:200%;" align="center"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">*****</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">Sebulan sudah Vin dirawat di rumah sakit. Dokter belum memutuskan kapan Vin diperbolehkan pulang. Selama sebulan itu Vin dan Rana menjalin persahabatan baru. Penderitaan yang sama menguatkan mereka. Sama-sama merasakan tidak enaknya saat menelan obat atau sakitnya benda runcing benama jarum suntik saat menusuk kulit mereka. <span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">Malam adalah saat paling istimewa bagi mereka. Walaupun dokter menyarankan mereka untuk tidur lebih cepat, tapi tak ada yang bisa menghalangi mereka untuk terjaga sampai obrolan panjang berubah perlahan menjadi gumaman. Sekarang Vin tidak lagi menertawakan cita-citanya karena ternyata Rana pun memiliki cita-cita yang sama. Bahkan mereka berencana akan membuka praktek di tempat yang sama pula. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">“Nggak takut kesaing?” tanya Rana bergurau.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">“Nggak lah ya. Soalnya aku pasti akan lebih hebat dari dokter Rana. Semua pasien akan lebih suka milih aku,” sahut Vin pura-pura menyombongkan diri.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">“Huuu…”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;"><span> </span>Bersama Rana, Vin belajar memiliki harapan. Lalu mengenggam harapan itu dalam kepalan tangan walau terkadang ingin ia lepaskan. Terkadang ia menangis sendiri saat Rana telah tidur. Bukan karena menyesali penyakit itu, tapi terlebih karena sebagai manusia Vin tidak ingin menyembunyikan kelemahannya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">Hingga suatu subuh. Vin menyisir rambutnya sehabis shalat. Dengan leher tersumbat ia menatap gumpalan rambut di tangannya. Pandangannya kemudian beralih ke bantal. Berhelai-helai rambut panjangnya terserak di sana. Nafasnya tersengal-sengal menahan kesedihan. Namun akhirnya tangisnya pecah juga. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">Rana yang baru keluar dari kamar mandi tertegun melihat Vin yang histeris. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">“Ada apa?” Rana menghampiri gadis yang tengah memandang sesuatu di genggamannya itu. Setelah dekat barulah Rana dapat melihat apa yang ditangisi sahabatnya itu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">“Rambutku. Rambutku.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">Rana duduk di hadapan Vin. “Ini memang akan terjadi. Kita tidak bisa menghalaunya. Seperti ketidakberdayaan kita menghentikan usia.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">“Kalau begini terus, aku bisa botak,” kata Vin masih terisak. Vin teringat akan kekaguman orang-orang terhadap keindahan rambutnya selama ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">Rana tersenyum samar. “Seperti aku.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">Tangis Vin seketika berhenti. Matanya kemudian terbelalak setelah Rana melepaskan jilbabnya. Tak sehelai rambut pun ada di sana.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">“Ran, kau botak,” ucap Vin tanpa sadar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">“Tapi aku tak percaya rambutku tidak bisa tumbuh lagi. Jadi aku tetap membeli jepit rambut atau karet rambut untuk kupakai jika rambutku tumbuh.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">“Kau membeli jepit rambut?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">Vin membayangkan jepit rambut itu menghiasi kepala Rana. Tapi yang terbayang olehnya malah jepit rambut yang melorot dari kepala yang plontos itu. Tanpa sadar Vin tersenyum lucu sekaligus sedih. Rana malah tertawa sambil mengenakan jilbabnya kembali.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">“Aku juga mau pake jilbab.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">“Dulu aku juga sepertimu. Pake jilbab karena kepalaku mulai botak. Tapi seorang temanku berkata bahwa seharusnya jilbab dipakai karena mengenakannya adalah perintah Allah. Sejak itu aku mulai meluruskan niat. Kau juga, ya?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">Vin menunduk. Tiba-tiba ponselnya berbunyi. Vin memeriksanya. SMS dari Liza menanyakan kabarnya. Vin segera membalasnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">“Aku ingin kau mengenal Liza. Dia sahabat baikku. Aku yakin, sama sepertiku Liza pun akan menyukaimu,” ujar Vin sambil menutup ponselnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">Rana tersenyum. Matanya bersinar. Sikap Rana mengundang pertanyaan yang selama ini disimpan Vin.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">“Maaf, Ran. Aku ingin tanya. Sudah sebulan kita bersama di kamar ini. Tapi aku tidak pernah melihat orang tuamu, teman-temanmu, atau keluargamu. Kenapa?” tanya Vin hati-hati.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">Sekali lagi Rana tersenyum. “Kan aku pernah bilang, aku sudah bolak-balik ke rumah sakit ini. Mereka sudah maklum. Jadi….” Rana menunduk.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">“Karena kau sudah bolak-balik kemari, jadi mereka bosan melihatmu?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">“Jangan bilang kayak gitu tentang mereka. Papa dan mamaku sangat sibuk. Aku harus mengerti, kan?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">“Nggak, aku nggak ngerti. Kau kan anak mereka. Masa mereka nggak mau melihatmu, sih?” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">“Vin, jangan mengira mereka tidak memperhatikan aku. Mereka sayang kok sama aku. Kau lihat bunga yang setiap hari berganti di mejaku itu? Lalu kau ingat kado yang kuterima kemarin? Semua itu dari orangtuaku, loh.” Tersirat kebanggaan dari kata-kata Rana yang didengar Vin. Vin memandang sahabatnya itu dengan mata heran. Liza sudah dua minggu tidak mengunjunginya dan Vin sudah merasa diabaikan. Setiap kali mama pamit pulang sebentar, Vin selalu merasa ditinggalkan. Namun Rana sama sekali tidak pernah dikunjungi oleh siapa pun dan ia tak pernah tampak sedih. Sebaliknya ia menerima dengan kemengertian yang sama sekali tidak bisa diterima Vin. Bagaimana bisa bunga dan kado itu menjadi pengganti kunjungan yang sangat berharga bagi seorang anak yang menderita? Tiba-tiba ia merasa begitu marah pada orang-orang yang telah mengabaikan Rana. Rana yang begitu cantik, rapuh, sekaligus tegar menghadapi sendiri penyakit itu, berjuang mempertahankan hidupnya tanpa siapa pun, namun tak sedikit pun mengeluhkan semua itu. Malah ia masih merindukan kesembuhan. Mendambakan hidup yang sebenarnya sudah tak adil baginya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">Tiba-tiba Vin ingin menangis. Tapi kali ini tangisnya ditujukannya untuk Rana.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">“Kenapa kau bisa sangat tabah, Ran?” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">Rana menerawang. “ Karena aku yakin saat ini Allah sedang mencintai aku. Aku hanya ingin berbaik sangka pada-Nya. Aku pernah membaca bahwa ketika kita sakit, Allah membukakan pintu langit untuk kita, dosa-dosa kita diampuni, dan doa-doa kita dikabulkan. Indah sekali kan, Vin?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">Vin menunduk. Menatap kembali gumpalan rambutnya tidak lagi membuatnya sesak nafas. Sebaliknya hatinya tersentuh. Jika setiap helai rambutnya yang rontok dapat menghapus satu demi satu dosanya, ia ingin botak saja kalau begitu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:200%;" align="center"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">*****</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">Liza kembali datang setelah lebih dari dua minggu menghilang. Mulanya Vin berencana pura-pura marah. Tapi alasan Liza membuatnya terhenyak. Sahabatnya itu menggalang dana untuknya dengan melibatkan seluruh siswa-siswa di sekolahnya. Hasilnya lumayan dan Liza berharap Vin dan ibunya tidak tersinggung dengan bantuannya itu. Vin tidak mampu berkata apa-apa. Biaya kemoterapi dan perawatannya selama ini memang sangat memberatkan. Uang tabungan bunda telah habis separuhnya. Sementara penghasilan dari toko pakaian mereka biasa-biasa saja. Vin yang tidak ingin mengecewakan Liza dan teman-temannya sekaligus memang sangat membutuhkan uang itu hanya bisa mengucapkan terima kasih. Ia ingin berkata lebih atau melakukan sesuatu untuk membalasnya tapi ia tidak tahu harus bagaimana.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">“Kau bilang ingin mengenalkan aku dengan teman barumu,” kata Liza mencairkan suasana.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">Vin menoleh ke samping tempat tidurnya. Tempat tidur itu kini rapi dan sepi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">Liza yang ikut menoleh berkata, “Dia sudah pulang?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">Vin menggeleng. “Kemarin Rana dibawa ke ruang ICU. Tubuhnya sudah tidak kuat lagi menerima kemoterapi. Sementara kankernya mulai menyebar lagi.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">Liza bisa merasakan kesedihan sahabatnya itu. Jadi dia diam saja.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">“Sebelumnya Rana memberiku ini.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">Liza memperhatikan sesuatu di genggaman Vin. Sebuah tasbih.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">“Ini milik Rana. Tapi dia bilang mulai saat ini dia hanya akan menggunakan hatinya saja. Artinya apa ya, Liz?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">Liza menggeleng. Terus terang pengetahuan agamanya masih sangat sedikit. Yang ia tahu tasbih hanya pantas untuk orang-orang yang sudah tua saja.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">Bunda tiba setelah dari rumah mengambil pakaian-pakaian Vin. Wajahnya kelihatan sendu. Ia tersenyum agak dipaksakan ketika melihat Liza. Hati Vin mulai merasakan tidak enak.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">“Bunda tahu kabar Rana?” tanya Vin.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">Bunda menarik nafas berat. Lalu ia duduk di samping Vin. Tangannya menggapai jemari puterinya itu. Bunda berkata agar Vin tabah. Rana baru saja dipanggil Tuhan beberapa saat yang lalu. Bunda melihat jenazah Rana keluar dari ruangan ICU<span> </span>ketika menuju kamar Vin.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">Kepala Vin mendadak pusing. Jantungnya serasa jatuh ke tanah dan hancur berderai-derai. Dengan tubuh sempoyongan Vin berlari keluar. Tujuannya adalah ruangan ICU walaupun dia tidak tahu dimana ruangan itu berada. Bunda dan Liza mengejarnya. Beberapa orang perawat ikut mengejar Vin. Tentu saja Vin akan mudah ditangkap. Vin pingsan setelah seorang perawat menangkap tubuhnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">Ketika sadar Vin melihat seorang dokter tengah memeriksanya. Sementara itu bunda dan Liza sedang menatap cemas kearah dirinya.<span> </span>Saat dokter menghampiri bunda, Liza mendekati Vin.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">Tatapan Vin lurus ke langit-langit kamar. Sebutir air mata mengalir turun dari sudut matanya. Ditangannya masih tergenggam tasbih pemberian Rana. Namun yang dirasakan Vin adalah genggaman Rana membaginya kekuatan. Vin memejamkan matanya dan bayangan Rana semakin jelas.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">“”Vin,” bisik Liza tersendat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">“Aku belum mati, Liz. Aku ingin hidup.”</span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ruangkami.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ruangkami.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ruangkami.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ruangkami.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ruangkami.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ruangkami.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ruangkami.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ruangkami.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ruangkami.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ruangkami.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ruangkami.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ruangkami.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ruangkami.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ruangkami.wordpress.com/17/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ruangkami.wordpress.com&amp;blog=5381656&amp;post=17&amp;subd=ruangkami&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ruangkami.wordpress.com/2008/11/07/suaramu-seringan-udara/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2980b9842e50f86f5f31c4ab319f88a6?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">ruangkami</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>KEMILAU EMBUN DI BATU CADAS</title>
		<link>http://ruangkami.wordpress.com/2008/11/06/kemilau-embun-di-batu-cadas/</link>
		<comments>http://ruangkami.wordpress.com/2008/11/06/kemilau-embun-di-batu-cadas/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 06 Nov 2008 15:31:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ruangkami</dc:creator>
				<category><![CDATA[fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[kemilau embun di batu cadas]]></category>
		<category><![CDATA[psikopat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ruangkami.wordpress.com/?p=11</guid>
		<description><![CDATA[Hujan pertama di bulan November. Langit kelabu. Jam baru menunjukkan pukul tiga sore. Tapi suasananya sudah gelap seperti senja. Alya baru saja menyelesaikan artikelnya ketika terdengar suara bersin. Alya memalingkan wajahnya dari komputer. Alma adik kembarnya memasuki kamar dengan tubuh basah kuyub. Tangannya menutup hidung. “Hatsy!” Alma bersin sekali lagi. Alya beranjak dari kursinya lalu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ruangkami.wordpress.com&amp;blog=5381656&amp;post=11&amp;subd=ruangkami&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">Hujan pertama di bulan November. Langit kelabu. Jam baru menunjukkan pukul tiga sore. Tapi suasananya sudah gelap seperti senja. Alya baru saja menyelesaikan artikelnya ketika terdengar suara bersin. Alya memalingkan wajahnya dari komputer. Alma adik kembarnya memasuki kamar dengan tubuh basah kuyub. Tangannya menutup hidung.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;"><span id="more-11"></span><!--more--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">“Hatsy!” Alma bersin sekali lagi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">Alya beranjak dari kursinya lalu mengambil handuk untuk adiknya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">“Kenapa tidak menunggu hujan reda?” tanya Alya kesal.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">“Aku ingat harus ketemu Kak Maya nanti jam empat. Aku nggak mungkin pergi dari kampus. Terlalu jauh. Aku takut telat,” sahut Alma sambil berjalan ke kamar mandi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">“Kau tidak boleh pergi.” Alya berkata tegas. Langkah Alma terhenti.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">“Tapi aku sudah janji,” kata Alma bersikeras.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">“Hujan pasti tidak akan berhenti sampai nanti malam. Lagian kau sudah kena flu,” ujar Alya sambil berjalan menuju dapur. Diambilnya kaleng susu coklat. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">“Aku harus pergi, Al. Kemarin Kak Maya tanya….”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;"><span> </span>“Kau lebih patuh padanya daripada kakakmu sendiri?” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;"><span> </span>Alma terdiam. Kedua saudara kembar itu saling berpandangan. Kemudian Alma tertunduk sebelum pergi meninggalkan kakaknya. Setelah membersihkan diri dia masuk ke kamarnya. Dia tahu tidak ada gunanya membantah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">Setelah membersihkan diri Alma berbaring di tempat tidurnya. Kemudian Alya masuk sambil membawa segelas susu hangat. Alya membelai rambut adiknya lalu menciumnya. Alma masih diam.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">“Badanmu mulai demam. Kau itu mudah sakit. Aku melarangmu karena aku sayang,” kata Alya lembut. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">Alma</span><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;"> mengangguk lalu duduk bersandar bantal. Kemudian dia menerima gelas susu yang disodorkan kakaknya. Alma meneguknya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">“Besok nggak usah kuliah, ya? Aku akan menemanimu,” bujuk Alya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">“Tapi besok praktikum,” tolak Alya memberi alasan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">“Kau kan sakit.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">“Besok pasti sudah sembuh.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">Alya menggelengkan kepalanya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">“Kau kan harus ketemu pemred” Alma mencoba mengingatkan Alya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">“Nanti aku minta Raka mengambilnya kemari.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">Alma</span><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;"> menyerah. Percuma memang mendebat Alya. Kakaknya itu tidak akan mendengarkannya. Dirinya hanyalah Alma, dan seorang Alma tidak punya daya untuk mengatakan tidak pada seorang Alya. Mungkin ketentuan itu sudah menyatu bersama darah mereka. Berdetak seiring denyut nadi. Dan mungkin tidak akan pernah berubah.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:200%;" align="center"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">*****</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;"><span> </span>Sore yang redup. Arakan awan kelabu tebal menyapu cakrawala dengan cepat. Lewat jendela Alma memandang langit yang semakin gelap. Pandangannya beralih ke wajah lembut Maya yang berbalut jilbab kaos putih. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">“Kak Maya mengerti. Minggu lalu memang hujan deras sekali, apalagi kamu sempat demam,” kata Maya sambil tersenyum.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">“Alya terlalu protektif, Kak. Terkadang saya merasa terlalu dikekang. Tapi saya tidak bisa berbuat apa-apa. Bahkan….” Alma menggantungkan kalimatnya. Gadis itu tampak ragu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">“Ya?” Maya menatap Alma tepat di manik matanya yang coklat. Menanti lanjutan cerita gadis cantik itu. Tapi Alma malah mengalihkan matanya ke rumpun mawar di sudut taman. Dari jendela yang terbuka Alma bisa melihat dengan jelas kelopaknya yang basah, sisa hujan tadi siang. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">Maya masih memandang gadis itu. Sikapnya gelisah walaupun ia berusaha menyembunyikannya. Mata Maya beralih ke tangan Alma yang tampak bergetar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">Maya memutuskan tidak ingin memaksa Alma. Sejak bertemu Alma ketika masa orientasi dulu, Maya sudah tertarik pada gadis itu. Waktu itu Maya adalah mentor kelompok Alma. Di matanya Alma adalah gadis yang misterius. Dia cendrung tertutup dan diam. Mulanya Maya mengira Alma adalah gadis pemalu. Tapi sejak peristiwa hari terakhir orientasi, pandangan Maya terhadap gadis itu berubah drastis. Alma menampar Sari. Mentor paling cerewet dan sangat ditakuti peserta. Maya tahu sebenarnya Alma yang bersalah. Gadis itu terlambat hampir satu jam. Langsung saja Sari membentak-bentak Alma. Namun Alma hanya diam sampai Sari selesai. Gadis itu tenang saja. Lalu peristiwa itu terjadi. Alma menampar Sari. Begitu kerasnya hingga seluruh orang di ruangan itu terperangah. Wajah Sari memerah karena marah atau malu, entahlah. Apalagi seluruh peserta kemudian tertawa riuh dan bertepuk tangan. Setelah itu dengan tenangnya Alma melangkah pulang. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">Maya langsung memberi perhatian besar pada gadis itu. Untungnya mereka satu jurusan. Tidak sulit mendekati Alma. Ternyata Alma gadis yang menyenangkan. Dia ramah. Sungguh berbeda dengan Alma pada masa orientasi dulu. Belakangan Alma memberitahu bahwa yang menampar Sari dulu itu bukan dirinya, tapi Alya kakak kembarnya. Alya menggantikan adiknya karena tidak ingin adiknya itu menjadi bulan-bulanan seperti layaknya peserta orientasi. Sayangnya seluruh mahasiswa lain sudah terlanjur menganggap Alma yang menampar Sari. Tidak ada yang tahu kejadian yang sebenarnya kecuali Maya. Sekarang Sari benci setengah mati kepada Alma. Gadis yang populer di kampus itu tidak terima dipermalukan seperti itu. Oleh adik lettingnya lagi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">“Kalian identik?” tanya Maya memecah kesunyian karena Alma tidak kunjung bicara. Gadis itu cuma menunduk mempermainkan kukunya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">Alma</span><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;"> mengangguk. “Ya. Cuma mama yang bisa membedakan kami secara fisik.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">Maya memandang Alma takjub. “Subhanallah,” desisnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">“Tapi sebenarnya kami tidak benar-benar mirip. Orang yang sungguh-sungguh mengenal kami akan mudah membedakan kami,” lanjut Alma.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">Maya mengangguk. Ya, dia bisa melihat itu. Sifat mereka bertolak belakang. Alma gadis yang lembut sedang Alya….</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">“Alya cendrung temperamental,” kata Alma seolah menjawab benak Maya. “Saya harus akui itu. Sikapnya semakin keras semenjak mama dan papa meninggal.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">Maya mengerutkan kening. Dia baru tahu kalau gadis kembar itu yatim piatu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">“Mereka meninggal waktu peristiwa terowongan mina dulu. Waktu itu kami masih SMP.” Alma diam. Wajahnya menjadi sendu. Maya meraih jemari gadis itu. Tiba-tiba Alma menjatuhkan kepalanya ke pangkuan Maya. Ia bisa merasakan kesedihan gadis itu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">“Sebenarnya saya khawatir,” gumamnya pelan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">“Pada Alya?” tebak Maya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">“Mmh…., dia…” Alma kembali menggantungkan ceritanya. Ia kembali duduk. “Maaf, Kak. Saya tidak bisa cerita.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">“Tak apa,” sahut Maya mengerti. Bibirnya terukir senyum. Ia berharap Alma terhibur. Namun wajah Alma masih tampak sendu. Gadis itu lalu berdiri.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">“Saya pulang,” pamitnya. Lalu dia berjalan menuju pintu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">“Al…,” Maya bangkit. “Hati-hati.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">Alma</span><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;"> mengangguk. Setelah mengucapkan salam ia hilang di balik pintu. Di kamar kosnya Maya termangu. Rahasia apa yang disimpan Alma?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">Sementara senja mulai turun menutupi langit dengan warna lembayungnya, desir angin perlahan menyusup masuk lewat kisi jendela. Maya masih termangu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:200%;" align="center"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">*****</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">Hari terus berganti. Setiap detik seakan berlari. Tahun pun terlewati begitu cepat. Seminggu pertama di bulan Januari, cuaca masih belum stabil. Hujan turun sering tanpa diduga. Padahal sebelumnya matahari bersinar garang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">Seperti sore ini. Titik-titik hujan turun sebesar jarum. Terkadang petir menggelegar marah. Namun Alya masih di kantornya. Gadis berkaca mata itu sedang mencetak film-film hasil jepretannya sendiri. Besok foto-foto peristiwa demontrasi para buruh itu akan menjadi headline utama di majalahnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">Sesaat Alya meringis. Kepalanya masih terasa sakit karena jatuh dari tangga tadi. Ia pun tidak mengerti kenapa dia bisa jatuh tiba-tiba ketika mengejar kepala personalia pabrik yang didemo itu. Selintas wajah adiknya muncul. Perasaannya langsung berdebar tidak karuan. Tapi mengingat harus meliput peristiwa demontrasi itu, perasaan tidak enaknya langsung dilupakannya. Perhatiannya kembali tertuju kepada kepala personalia yang diburunya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">Keseriusan Alya masih tak terusik ketika mendengar HP nya berbunyi. Lima menit kemudian baru dia meraih benda itu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">“Ya?” sahut Alya sambil menjepit sebuah foto yang baru dicuci.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">“Alya? Ini Kak Maya. Alma kecelakaan. Kami sekarang di rumah sakit umum.” Terdengar suara Maya yang kelihatan cemas. Alya tersentak ketika mendengar berita itu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">“Kenapa dia?” tanya Alya berteriak. Tangannya tanpa terasa menjatuhkan baki. Suara baki yang nyaring terpelanting tidak dihiraukannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">“Nanti kakak ceritakan. Sekarang cepatlah datang.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">Klik. Telepon ditutup. Bagai kesetanan Alya berlari keluar. Menuju parkir lalu melarikan supranya secepat kilat. Tidak dihiraukannya gerimis yang cukup deras itu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">Setengah jam kemudian Alya sampai di rumah sakit. Alma masih tidak sadar. Kepalanya dibalut perban. Alya mendekati Maya yang duduk di kursi di samping tempat tidur Alma. Maya berdiri menyambut Alya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">“Apa yang terjadi? Kenapa dia sampai begini? Ayo ceritakan padaku.” Dengan nafas memburu Alya mengguncang-guncang bahu Maya. Maya menjadi gelagapan. Tanpa menunggu jawaban Maya, Alya bergerak menuju adiknya yang masih belum sadar. Alya mengusap wajah Alma lalu mendekapnya. Beberapa saat kemudian Alma sadar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">“Al, kamu tidak apa-apa, kan?” Alya menatap adiknya cemas. Alma menggeleng lemah. Lalu memejamkan matanya kembali. Alya bangkit lalu berjalan kearah Maya yang masih berdiri terpaku memperhatikan gadis kembar itu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">“Dia bukan kecelakaan, kan? Aku tahu seseorang sengaja mencelakainya.” Mata Alya menyorot tajam menatap Maya. Wajahnya dingin. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">“Kami menemukannya pingsan di bawah tangga akademik. Kami tidak…,” sahut Maya bingung.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">“Seseorang mendorong dari tangga,” potong Alya cepat. Maya semakin tidak mengerti.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">“Aku tidak tahu itu. Benarkah? Bagaimana kau tahu?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">“Aku tahu sebelum pingsan, Alma melihat seseorang di atas tangga sedang tersenyum puas. Orang itu yang mendorongnya,” kata Alya<span> </span>yakin. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">“Tapi bagaimana kau tahu?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">Alya diam memandang Maya dengan matanya yang dingin. Sejenak Maya merinding. Dia segera mengalihkan matanya ke arah Alma.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">“Kau lupa? Kami saudara kembar. Kami bisa saling merasakan. Kami tahu apa yang terjadi satu sama lain. Ketika aku memeluknya tadi, aku menangkap bayangan peristiwa itu. Kau tahu, aku juga terjatuh dari tangga tadi.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">Maya kembali melihat Alya. “Masya Allah,” desisnya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">Alya berbalik kearah adiknya. “Alma tidak kenal gadis itu. Tapi aku kenal.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">“Maksudmu?” Keheranan Maya menjadi berlipat ganda. Dia jadi pusing sekarang dengan teka-teki ini. Tapi keheranannya harus ditelannya sendiri karena Alya langsung melesat pergi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">Dua minggu kemudian Alma diperbolehkan pulang. Alya sengaja tidak masuk kantor untuk menjemput adiknya. Kesehatan Alma sudah pulih. Wajahnya tidak lagi pucat. Tapi Maya menangkap kegelisahan dari wajah gadis itu. Berbeda dengan Alya yang begitu ceria.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">Beberapa hari berlalu, tapi Alma masih tampak tegang. Maya sudah sering menanyakan apa yang membuat Alma begitu cemas. Tapi Alma selalu menjawab tidak ada apa-apa. Dia tahu Alma berbohong. Tapi Maya memilih untuk tidak terlalu memaksa. Mungkin suatu hari nanti Alma akan bercerita. Mungkin ada hubungannya dengan rahasia yang disimpan gadis itu. Alma pusing. Ternyata Alma sama misteriusnya dengan kakaknya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">Harapan Maya hampir terkabul. Sore itu Alma datang ke kamar kosnya. Wajahnya suram seperti biasa. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">“Kak Maya, saya ingin pakai jilbab,” ujarnya begitu melihat Maya. Maya terpana.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">“Kak, saya sungguh-sunguh. Bantu saya, Kak,” lanjut Alma lagi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">Maya segera memeluk Alma. “Alhamdulillah,” ucapnya di telinga gadis itu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">Lalu mereka duduk di karpet hijau kamar kos Maya. Maya tersenyum bahagia. Sebaliknya Alma masih tampak tegang, walaupun sudah agak tenang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">“Hidayah itu indah, adikku. Sekarang cahayanya sudah kau miliki. Jagalah ia jangan sampai terlepas,” kata Maya lembut. Terdengar isakan pelan. Senyum Maya<span> </span>mendadak lenyap begitu melihat wajah Alma yang sedih luar biasa. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">“Kenapa?” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">Alma</span><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;"> masih terisak. Lalu Maya bangkit. Tangannya meraih sehelai jilbab putih miliknya dari lemari. Kemudian Maya memakaikannya pada Alma. Gadis itu masih diam.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">“Lihat itu.” Maya menunjuk cermin. Alma melihat bayangannya di cermin. Begitu tampak suci dengan jilbab putih. Alma mencoba tersenyum. Tapi pandangannya kosong. Entah apa yang tersimpan di benaknya. Tak seorang pun yang tahu. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:200%;" align="center"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">*****</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">Lusa Alma datang lagi. Kali ini selepas maghrib. Malam yang cerah. Bulan tampak sepotong bercahaya keemasan. Tapi tidak dengan Alma. Wajahnya tegang menyiratkan ketakutan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">“Kak, tolonglah Alya.” Suara Alma terdengar bukan seperti permintaan. Tapi perintah. Maya memandang Alma penuh selidik.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">“Kau …Alya?” tanyanya. Tapi ah, bukan. Alya berkacamata dan tidak berkerudung.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">“Saya Alma, Kak. Dan kita harus menolong Alya.” Alma berjalan mondar-mandir. Maya jadi bingung dibuatnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">“Ya, ya. Tapi tenang dulu.” Maya menyodorkan segelas air putih. Tapi Alma menolaknya. Dia malah memandang Maya. Tapi pandangannya kosong. Maya tahu pikiran gadis itu ke arah lain. Alma tampak sedang berpikir keras. Alma menarik nafas panjang. Tampak berat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">“Lihat ini.” Alma mengambil sehelai koran dari tasnya. Maya mengambilnya lalu melihat halaman depan. Tertera foto Sari. Maya terperanjat begitu membaca beritanya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">“Innalillahi wa inna ilahi roji’un… Ya, Allah, siapa yang melakukan ini?” Alma membuang wajahnya ke arah lain. “Pantas beberapa hari ini Sari tidak kelihatan di kampus. Ternyata….”<span> </span>Maya menangis. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">“Sekarang kita harus menolong Alya. Saya mohon, Kak. Tolong dia.” Alma memegang tangan Maya. Memelas sekali.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">“Tapi apa hubungannya dengan Alya?” Maya melempar koran itu lalu mengusap air matanya. Gadis itu tampak bingung. Tiba-tiba terdengar ketukan di pintu. Buru-buru Maya membukanya. Sosok Alya berdiri tepat di depannya. Wajahnya yang tenang sekaligus sedingin es seperti biasa terlihat. Maya menyilakan Alya masuk lalu kembali menutup pintu. Alma langsung menyongsong kakaknya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">“Alya, syukurlah kau datang. Kami baru saja bicara tentang rencana kepergian kita.”<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">Maya semakin bingung. “Siapa membicarakan kepergian siapa?” tanyanya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">Alya memandang adiknya. “Dia tahu?” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">“Ada apa sebenarnya?” Perasaan Maya merasakan sesuatu yang buruk telah terjadi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">“Kau cerita padanya?” tanya Alya pada adiknya lagi. Sementara kakinya melangkah mendekati Maya. Matanya tajam menikam mata gadis itu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">“Kak Maya belum tahu apapun. Aku merencanakan…,”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">“Kau ingin membongkar rahasia kita, ya?” Potong Alya cepat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">“Kak Maya bisa menolongmu, Al.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">“Aku tidak butuh pertolongan siapapun!” Sergah Alya hampir berteriak. Maya memandang bergantian gadis kembar di depanya. Benaknya bagai slide berputar cepat menampilkan bayangan-bayangan peristiwa yang telah terjadi. Kedatangan Alma yang tiba-tiba meminta bantuannya untuk Alya, berita Sari yang ditemukan sudah menjadi mayat di bawah tebing dekat hutan pinus, peristiwa jatuhnya Alma, sikap aneh Alya di rumah sakit….</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">“Dia juga harus mati.” Suara Alya bagai guntur di siang hari menyambar telinga Maya. Maya terperangah. Bibirnya tak henti berzikir.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">“Jangan, Al. Kumohon jangan lakukan itu lagi. Sudah cukup. Kak Maya tidak tahu apa-apa.” Alma panik. Tangannya menarik tangan Alya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">“Sejak awal aku sudah benci dia!” teriak Alya sengit. “Dia memang tidak menganggumu. Tapi dia telah merebut perhatianmu. Sebagian waktumu telah kau habiskan buat dia. Bahkan sekarang kau sudah sepertinya.” Alya menuding jilbab Alma.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">“Demi Allah, Kak Maya telah membantuku menemukan hidayah. Dia mengajariku untuk dekat dengan Tuhan. Andai kau…”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">“Omong kosong!” teriak Alya marah. “Semenjak mengenalnya kau mulai membantahku. Dia harus dilenyapkan agar tidak menganggu hidup kita lagi.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">Alya mengeluarkan sesuatu dari saku jeansnya. Sebuah pisau lipat. Maya semakin gemetar. Matanya terbelalak menatap pisau yang berkilat itu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">“Jangan!” Alma berteriak sambil memeluk tubuh Maya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">“Minggir, Al.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">“Tidak akan! Sudah cukup kau membunuh karena aku. Dulu kau mendorong anak tetangga ke sumur karena dia telah menabrakku dengan sepeda. Untunglah dia tertolong. Dan aku juga tidak bisa melupakan waktu kita di SMU. Sebenarnya aku yang ceroboh hampir tertabrak mobil Arya. Tapi kau membalasnya dengan merusak rem mobilnya. Sekarang dia jadi pincang karena mobilnya menabrak pagar jembatan.” Alma mengusap air matanya dengan punggung tangan. “Lalu…lalu kau membunuh Sari karena dia mendorongku dari tangga. Aku tahu kau sayang padaku. Tapi bukan seperti ini caranya. Lama-lama aku takut padamu.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">Alya tertegun. “Kau… takut padaku?” suara Alya melemah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">“Ya!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">“Tapi aku saudaramu.” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">“Aku ingin saudaraku mencintai orang-orang di sekelilingnya. Bukan membunuh.” Alma semakin erat mendekap Maya. “Al, kau sakit. Kau butuh psikiater. Aku bisa membantumu. Sekarang, aku mohon letakkan pisau itu.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">“Jadi kau menuduhku gila? Psikopat?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">“Aku cuma ingin kau tidak lagi menyakiti orang lain.” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">“Itu kulakukan untukmu. Aku tidak ingin kau disakiti.” Mata Alya mulai berkaca-kaca. Tapi tangannya semakin erat menggenggam pisau.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">“Tapi kau ingin membunuh Kak Maya. Padahal dia sayang padaku.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">“Itu karena aku membencinya. Selain itu dia sudah tahu semuanya. Dia bisa melaporkanku ke polisi.” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">“Kau pantas!” balas Alma. Alya terdiam menatap adiknya dengan sorot mata terluka. Setetes air mulai jatuh dari sudut mata itu. Dengan bibir bergetar Alya berkata,</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">“Dia sudah merebut cintamu. Kini kau benci padaku. Dia harus mati sekarang juga!” Dengan cepat Alya berjalan ke arah Maya. Tangannya yang menggenggam pisau terayun ke tubuh gadis itu. Tanpa diduga, Alma maju melindungi tubuh Maya. Terdengar jeritan Maya. Tubuh gadis berjilbab di depannya luruh ke lantai berlumur darah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">“Alma!” Maya meraih tubuh gadis itu. Sedang Alya termangu dengan mata terbelalak lebar. Pisau yang masih meneteskan darah terjatuh menimbulkan bunyi yang nyaring. Alya meraba ulu hatinya yang terasa nyeri luar biasa. Tepat di mana ia menusukkan pisau ke dada adiknya. Alya menahan nafasnya untuk menahan rasa sakit itu. Tiba-tiba matanya menggulita. Selanjutnya dia roboh ke lantai.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">“Alma…” panggil Maya terisak. Tapi Alma tetap diam. Matanya terkatup.<span> </span>Lalu nafasnya yang hangat berangsur-angsur sirna.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:200%;" align="center"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">*****</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;"><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">Akhir Maret yang damai. Matahari pagi bersinar hangat. Langit membiru jernih. Arakan awan bagai tirai tipis menyapu lembut cakrawala. Rumpun mawar mulai bersemi memunculkan mahkota merahnya. Tepat berada di bawah jendela kamar Maya. Sinar matahari menyentuh sisa-sisa embun. Memantulkan kemilaunya bagai permata.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">Maya menyisir lembut rambut gadis di depannya. Lalu memasangkan sehelai jilbab putih ke kepalanya. Gadis itu tetap diam memandang kosong<span> </span>ke depan. Maya tersenyum memandang gadis itu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">“Jilbab itu lambang kesucian wanita. Pemakainya akan terjaga dari kotoran dunia. Kebersihan hati akan tercermin melalui jilbab ini. Lihatlah, pakaian takwa ini memancarkan cahaya izzahmu.” Maya membawa gadis itu ke cermin. Gadis itu melihat pantulan dirinya. Bibirnya yang terkatup rapat perlahan membuka. Matanya yang kosong seolah menagkap cahaya. Semilir angin pagi menyentuh wajahnya. Masuk lewat kisi jendela membawa aroma mawar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">“Aku tahu dia akan datang. Aku tahu dia tidak mati. Alma….” Gadis itu berjalan ke arah cermin. Lalu mendekapnya seolah cermin itu adiknya. Namun beberapa saat kemudian gadis itu histeris sambil melempar cermin hingga pecah. Meninggalkan serpihan yang melukai hati Maya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:200%;" align="center"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;">*****</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;font-weight:normal;"> </span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ruangkami.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ruangkami.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ruangkami.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ruangkami.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ruangkami.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ruangkami.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ruangkami.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ruangkami.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ruangkami.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ruangkami.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ruangkami.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ruangkami.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ruangkami.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ruangkami.wordpress.com/11/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ruangkami.wordpress.com&amp;blog=5381656&amp;post=11&amp;subd=ruangkami&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ruangkami.wordpress.com/2008/11/06/kemilau-embun-di-batu-cadas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2980b9842e50f86f5f31c4ab319f88a6?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">ruangkami</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>SETAPAK CAHAYA DI BELANTARA</title>
		<link>http://ruangkami.wordpress.com/2008/11/05/setapak-cahaya-di-belantara/</link>
		<comments>http://ruangkami.wordpress.com/2008/11/05/setapak-cahaya-di-belantara/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 05 Nov 2008 12:32:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ruangkami</dc:creator>
				<category><![CDATA[fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[cempaka penulis cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen cempaka]]></category>
		<category><![CDATA[karya cempaka]]></category>
		<category><![CDATA[penulis cempaka]]></category>
		<category><![CDATA[setapak cahaya]]></category>
		<category><![CDATA[setapak cahaya di belantara]]></category>
		<category><![CDATA[tulisan cempaka]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ruangkami.wordpress.com/?p=4</guid>
		<description><![CDATA[bagaimana aku bisa menolak, jika kekuatan magnet yang menarikku begitu besar? Cahaya putih lembut menerangi setiap sudut hingga hutan bagai ruang dansa di istana perak. Dan mereka, makhluk sehasta yang sungguh cantik dengan sayap angsa, menarik tanganku mengajak berdansa bersama, tertawa, dan pergi bersama……<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ruangkami.wordpress.com&amp;blog=5381656&amp;post=4&amp;subd=ruangkami&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:200%;">Oleh Cempaka</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;">
<p class="MsoBodyTextIndent">……bagaimana aku bisa menolak, jika kekuatan magnet yang menarikku begitu besar? Cahaya putih lembut menerangi setiap sudut hingga hutan bagai ruang dansa di istana perak. Dan mereka, makhluk sehasta yang sungguh cantik dengan sayap angsa, menarik tanganku mengajak berdansa bersama, tertawa, dan pergi bersama……<span id="more-4"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;">“Simpanlah, sayang. Sebagian hidupku sekarang kutitipkan padamu.” Nenek menggenggam erat tangnku yang memegang buku hariannya. Senyum cantiknya tersemai di wajahnya yang damai. Aku mengangguk lalu mencium pipinya. Wanita agung yang telah mempersembahkan cinta terbesarnya untukku, cucu satu-satunya. Kudekap tubuh ringkihnya penuh kasih. Aku merelakannya pergi. Menyentuh langit seperti yang diimpikannya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;">Mom menangis di pelukan Dad. Tapi kami ikhlas.Di awal musim semi tahun lalu, nenek pergi untuk selamanya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:200%;" align="center">*****</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;">
<p class="MsoBodyTextIndent">“Membosankan. Ini benar-benar konyol.”</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;">Emily O’Connor selalu mengeluh. Selain bersenang-senang dengan Andrew pacarnya, kupikir semua pasti dianggapnya membosankan. Aku tertawa dalam hati. Diskusi kelompok ini pasti dianggapnya neraka. Kalau bukan karena tugas makalah Paleontolog dari Prof. Miller mungkin gadis pirang itu tidak berada di taman Universitas Columbia ini.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;">“Tidak ada teori satu pun yang mengatakan dengan pasti peradaban-peradaban masa lalu hilang begitu saja tanpa bekas. Semuanya berlandaskan perkiraan. Secara konkrit peradaban-peradaban itu dapat saja masih berlangsung. Mungkin di dunia lain di luar dimensi manusia.” Kim mahasiswa dari Korea amat cerdas. Sepanjang diskusi yang sudah hampir dua jam, Kim yang paling sering berargumen.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;">“Jadi menurutmu manusia bukan satu-satunya yang hidup dan membangun peradaban di bumi ini? Ada makhluk lain yang harus kita akui sebagai tetangga, begitu?” Wajah Steve Morris ditekuk serius.<span> </span>Aku menarik ujung bibirku membentuk seringai. Steve tidak pernah serius. Dia sedang memperolok-olok Kim, pikirku yakin.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;">“Ya, tentu saja, Steve,” timpal Emily dengan wajah serius pula. “Makhluk berkaki tiga, berwarna hijau berlendir, memiliki mata satu yang tak pernah berkedip dan berkata, ‘Halo, aku temanmu. Kau boleh memanggilku Mr. Bip-Bip. Ayo ke duniaku, dan jadilah seperti aku. Ha….ha…ha….” Emily tertawa oleh leluconnya sendiri. Steve ikut tertawa lebar. Suara baritonnya membahana. Aku cuma tersenyum. Tapi senyumku lenyap ketika melihat Kim dan Allia , mahasiswi dari Mesir itu hanya diam. Bahkan Kim tidak dapat menyembunyikan kekesalannya dari wajahnya. Kaca mata tebalnya dibiarkan melorot. Allia si gadis Mesir tampak serius membaca deretan huruf buku tebal di pangkuannya. Aku tahu buku itu selalu dibawanya. Sebuah penelitian Neil F. Straitt yang dibukukan<span> </span>dengan judul Sebuah Masa di Bumi.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;">“Juni 1864, seorang ilmuwan arkeolog bersama dua sarjana paleontolog meneliti tulisan-tulisan dan gambar-gambar yang terdapat di bebatuan lembah sebelah tenggara Gunung Casil, Arizona Selatan. Penelitian mereka mengilhami penelitian-penelitian selanjutnya. Secara ilmiah kita sulit menolak setiap hipotesis yang dihasilkan. Setiap penelitian memperkuat sekaligus memperlemah penelitian sebelumnya.”</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;">Hening. Kami semua menatap Allia yang<span> </span>tengah berbicara. Lalu dia menulis sesuatu di notesnya. Entah kenapa kami seperti tersihir setiap kali gadis berkerudung itu bicara. Tidak ada yang berani menyela apalagi mengolok-olok. Mungkin karena Allia jarang bicara, membuat kami<span> </span>agak menghormatinya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;">“Jutaan tahun sebelum manusia pertama diciptakan, berjenis-jenis makhluk telah hidup di bumi ini. Mereka cerdas, mungkin lebih cerdas dari manusia dan membangun teknologi.” Allia menyelesaikan kata-katanya. Kami masih diam dan saling pandang. Dengan ekor mataku kulihat Emily sedang menguap. Sementara Steve sedang memandang Allia serius.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;">“Menarik sekali, Miss. Apalagi yang dikatakan batu-batu itu?”</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;">Emily mencondongkan tubuhnya ke arah Steve. “Mereka hidup seperti kita. Makan, tidur, sekolah, bekerja…”</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;">Aku tahu Emily hanya bercanda. Dia tak mungkin percaya sepenuhnya kepada Allia.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;">“Tepat sekali, Emmy.” Allia memandang Emily sambil tersenyum. Alis tebalnya terangkat. “Mereka lahir, hidup, dan mati,” lanjutnya lagi.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;">Emily menarik nafas dan menghembuskannnya dengan keras. Sehingga poninya tersibak ke belakang.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;">“Kurasa satu hal yang paling menarik ialah….” <span lang="FR">Kim memandang kami satu persatu. Ia sengaja menggantung kalimatnya untuk membuat suasana tegang. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span lang="FR"> Beberapa dari mereka masih hidup hingga kini. Aku yakin mereka ada di suatu tempat, hidup,dan membangun peradaban. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span lang="FR"><span> </span></span>“Sudahlah, Kim.”  Emily mengerang.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;">“OK…ok…dimana mereka?” Steve malah berbuat konyol. <span lang="FR">Ia celingukan ke penjuru taman seolah-olah mencari sesuatu.<span> </span></span>Halo….</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;">“Steve, kita akan menemukannya. <span lang="FR">Tapi bukan di sini.    Kata-kataku membuat semua tercengang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;">“Apa maksudmu ?” tanya Kim. Wajahnya tegang. Sepertinya dia mulai meraba maksudku.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;">Aku tersenyum. Kulihat Allia pun tampak menunggu kata-kataku selanjutnya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;">“Kita akan ke Gunung Casil,” kataku pasti.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;">“Apa?!” Steve terlonjak.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;">Emily tersedak. Kim menatapku tak percaya. Satu-satunya yang normal hanyalah gadis Mesir itu. Bibirnya membentuk senyuman.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;">“Aku setuju,” katanya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;">“Proyek ini harus benar-benar menghasilkan sesuatu yang meledakkan ilmu pengetahuan. Harus spektakuler. Penelitian di Lab atau hutan-hutan California, takkan menghasilkan apa-apa. Kita akan menyelidiki lembah itu. Kalau perlu kita akan ke puncak Casil.”</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;">“Kau benar-benar sudah gila, Ryan.” Emily memandangku dengan mata melotot.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;">“Kupikir Ryan benar. Kita akan ke Arizona.” Kim menepuk-nepuk bahuku.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;">“Well, kurasa Mr. Morris takkan melewati petualangan ini.” Aku tahu Steve Morris tertantang oleh kata-kataku. Aku tak perlu bicara apa-apa lagi untuk membujuknya. Aku sudah tahu jawabannya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;">“Kapan kita pergi?” Mata biru steve menantang mataku.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;">Aku bersorak dalam hati. Bagus, Steve.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;">“Steve, kau tidak sungguh-sungguh, kan?” Emily memandang Steve gusar.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;">“Ayolah, Emmy. Anggap saja ini piknik. Bagaimana?” Bujuk Steve.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;">Aku tahu Emily tidak bisa mengelak. Prof. Miller takkan menerima jika satu orang keluar dari tim. Bisa dipastikan dia takkan lulus,</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;">“Shit! Aku terjebak.” Emily mengepalkan tangannya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;">“Ok.” Aku menggosok-gosokkan tanganku tidak sabar. “Lusa kita sudah ada di Arizona,” putusku.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:200%;" align="center">*****</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:200%;"><span> </span>………….dan aku membuka mata. Cahaya putih yang menyilaukan menusuk-nusuk mataku. Ketika aku sadar sepenuhnya, kulihat mereka banyak sekali. Mengelilingiku sambil bergandengan tangan. Mereka tertawa. Suara mereka mirip gemerincing koin-koin. <span lang="FR">Telingaku sakit. Aku ketakutan. Aku menjerit. Menjerit…….</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:200%;"><span lang="FR"><span> </span></span><span> </span>“Ryan,”  aku terkejut. Cepat-cepat kututup buku harian nenek.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:200%;"><span> </span>“Hai, Kim. Belum tidur?” tanyaku basa-basi.</p>
<p class="MsoBodyTextIndent">“Udaranya dingin sekali di sini. Padahal sebentar lagi awal musim panas. Lagipula Steve tidur seperti kodok.”</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;">Aku tertawa. <span lang="FR">Kim<span> </span>juga.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span lang="FR">Malam di hutan Casil begitu mencekam. </span>Kami tiba sore tadi. Memasang tenda dan memasak makan malam membuat kami lelah dan ingin cepat-cepat tidur. Kukatakan pada mereka untuk menjaga stamina, karena besok pagi-pagi sekali investigasi harus segera dimulai. <span lang="FR">Tapi aku sendiri sulit memejamkan mata.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;">Aku merasakan ada yang aneh dalam perasaanku. Aku merasa akan berkelana seperti nenek. Buku hariannya telah berulangkali kubaca. Walaupun begitu setiap kalimatnya masih tetap membuatku tercengang. Ada apa sebenarnya? Apa yang telah terjadi pada nenek ketika berusia dua belas tahun ketika itu? Nenek menghilang selama tiga bulan tanpa berita. Orangtuanya mengira nenek diculik. Tapi tidak ada orang yang meminta tebusan. <span lang="FR">Pencarian pun tidak menghasilkan apa-apa. </span>Disaat mereka telah pasrah, nenek muncul. Sedang terbaring di halaman rumput depan rumahnya pada suatu pagi.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;">Nenek menceritakan semua yang terjadi padanya. Tapi tak seorang pun percaya. Mereka menganggap itu hanya khayalan anak kecil. Akhirnya nenek menuliskannya di buku hariannya. Berharap cerita itu tidak akan hilang jika ia telah tua dan meninggal. Berharap suatu hari nanti akan ada yang mempercayainya. Mungkinkah itu aku?</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;">Setelah satu jam ngobrol dengan Kim tentang peradaban masa lalu yang diyakininya masih berlangsung, aku memutuskan untuk tidur. Tapi sebelumnya kami memeriksa keadaan sekitar. <span lang="FR">Terutama di sekitar tenda Emily dan Allia. Aku memanggil mereka dari luar. </span>Tidak ada jawaban. Berarti mereka sudah tidur.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;">Dengan kantuk yang hebat aku masuk tenda. Kim benar. Steve tidur seperti kodok.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:200%;" align="center">*****</p>
<p class="MsoBodyText"><span> </span>Medan yang kami hadapi ternyata tak sesulit yang aku bayangkan. Selain cadas-cadas berlumut, tidak ada yang perlu kami waspadai.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:200%;"><span> </span>Allia pun dapat turun tanpa kesulitan yang berarti. <span lang="FR">Aku mengagumi gerakannya yang lincah dalam baju panjangnya yang longgar.<span> </span>Bahkan Allia memakai celana panjang yang longgar pula. Aku yang jadi merasa kerepotan. Kontras sekali dengan Emily yang cuma memakai celana pendek dan kaus tanpa lengan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span lang="FR">Kami mulai mencari-cari dengan bermodalkan sebuah peta dan petunjuk tertulis dari Prof. Miller. </span>Sebagai pengaman, masing-masing dari kami diharuskan membawa handy talky yang terhubung dengan Prof. Miller dan Prof. Harrold.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span lang="FR">Matahari sudah naik. Udara terasa lebih hangat. </span>Kami memutuskan untuk beristirahat sambil menyantap makan siang. Sementara itu, kulihat Allia tampak mempersiapkan peralatan ibadahnya. Mmhh…, pasti dia akan sembahyang, pikirku. Kulirik Steve. Aku tahu pemuda yahudi itu tak pernah suka dengan agama Allia. Jadi aku maklum ketika Steve pergi menjauh. Sedangkan Emily memilih tak peduli. Begitu pun dengan aku dan Kim. Kami langsung mencari tempat yang nyaman untuk beristirahat. Kim masih memperhatikan peta di tangannya. Dan aku berusaha mencari sinyal ke Prof. Miller. Dan Emily bersandar di sebuah batu besar.<span> </span>Menikmati cahaya matahari siang yang terasa hangat di lembah ini. Matanya terpejam.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;">Setelah berbicara dengan profesor dan melaporkan belum ada apa-apa yang kami temukan sampai saat ini, aku membuka kembali buku harian nenek. Dan aku kembali tersihir…..</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;">………..’Ayo, menarilah.’ <span lang="FR">Mereka menggamit tanganku. Dan kembali magnet itu menarikku. </span>Ketakutanku lenyap entah kemana. Berganti dengan keceriaan tak terkira. Kami berputar dalam taman penuh bungan berwarna putih. Dikelilingi rumah-rumah kecil beratap tumpukan kapas. Makhluk-makhluk cantik itu tersenyum. Sayap-sayapnya terkepak-terkepak. <span lang="FR">Sehingga sehelai bulu terbang mengenai wajahku. Aku mengambilnya dan tiba-tiba dunia seolah berputar. Aku ikut berputar-putar lalu masuk ke lubang tak berdasar. Gelap….</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span lang="FR">Hei ! </span>Kemari semuanya ! Teriakan Emily mengembalikan aku ke dunia nyata.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span lang="FR">“Ada apa, Emmy? </span>Tanyaku gusar. Aku masih terkejut.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span lang="FR">“Kemari dan lihatlah ini. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;">Aku dan Kim menuju Emily yang sedang memperhatikan batu besar yang disandarinya tadi. Emily menunjuk sesuatu di batu besar itu. Aku memperhatikannya dengan alis bertaut.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;">“Sepertinya garis-garis ini memiliki makna, “ kata Emily. Baru kali ini aku melihatnya serius. Mungkin ia merasa bangga telah menemukan sesuatu.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;">“Sebuah tulisan kuno.” Suara Allia tiba-tiba terdengar di belakang kami.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;">Kim cepat-cepat merogoh ransel besarnya. Menemukan sebuah buku lalu membalik-baliknya. Kumpulan tulisan-tulisan kuno beserta maknanya. Tapi setelah berulangkali dibalik, Kim tidak berhasil menemukan apa-apa di dalamnya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;">“Tidak ada, Ryan.” Katanya sambil menutup buku itu.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;">“Wow! Hebat! Kita penemu pertama tulisan aneh ini,” sorak Emily.</p>
<p class="MsoBodyTextIndent">“Aku tak percaya tulisan ini belum ada yang menemukanya,” kataku yakin.</p>
<p class="MsoBodyTextIndent">“Dari bentuknya kita bisa menduga umurnya mencapai jutaan tahun,” ujar Kim sambil membetulkan kacamatanya yang melorot.</p>
<p class="MsoBodyTextIndent">Aku tak yakin. Kupikir harus diteliti dulu untuk mengetahui usia tulisan itu.</p>
<p class="MsoBodyTextIndent">“Tapi yang terpenting apa makna tulisan ini,” gumam Emily.</p>
<p class="MsoBodyTextIndent">“Hey, guys! Kalian pasti tidak percaya apa yang baru kutemukan.” Steve berlari ke arah kami. Serentak kami menoleh.</p>
<p class="MsoBodyTextIndent">“Ayo ikut aku,” katanya sambil berbalik . Kami semua mengikutinya sampai di sebuah sungai kecil yang membelah lembah itu. <span lang="FR">Aku tak menyangka ada sungai di sini. Gemericik airnya sama sekali tak terdengar ke hutan.</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent">“Hebat sekali, Steve,” pujiku.</p>
<p class="MsoBodyTextIndent">“Ini belum seberapa. Ada yang lebih menakjubkan. Lihat itu.”</p>
<p class="MsoBodyTextIndent">Kami mengikuti arah yang ditunjuk Steve. Bongkahan batu besar hitam yang memiliki lubang menganga di bawahnya terlihat oleh kami.</p>
<p class="MsoBodyTextIndent">“Aku layak mendapat nobel,” seru Steve. “Aku menemukan peradaban. Ayolah.” Steve menuju batu itu lalu masuk ke lubang di bawahnya. Lubang itu tidak cukup besar untuk kami masuki sekaligus. <span lang="FR">Lagipula di dalamnya buntu. </span>Jadi aku dan Steve yang masuk. <span lang="FR">Sementara yang lain menunggu di luar.<span> </span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent"><span lang="FR">Kau lihat apa, Ryan ? </span>Kim berteriak di luar.</p>
<p class="MsoBodyTextIndent">Steve bersorak. “Hebat, hebat sekali.”</p>
<p class="MsoBodyTextIndent">Aku tidak menjawab apa-apa. Aku terpukau atas apa yang kulihat. Di seluruh permukaan dinding gua kecil ini kulihat penuh gambar. Dengan senter yang kubawa semua tampak jelas olehku. Mungkinkah ini makhluk yang menculik nenek? Makhluk-makhluk itu benar-benar ada. Persis seperti yang diceritakan nenek dalam buku hariannya. Makhluk sehasta, bersayap, sedang menari.</p>
<p class="MsoBodyTextIndent">Setelah puas melihat-lihat, kami keluar. Gantian Allia dan Emily yang masuk. Terdengar decak kagum Emily. Dan seruan Allia mengucap nama Tuhannya.</p>
<p class="MsoBodyTextIndent"><span lang="FR">“Di sini ada tulisan kuno. </span>Tapi berbeda dengan yang di batu itu,” kata Emily.</p>
<p class="MsoBodyTextIndent">“Kim, coba kau lihat,” pinta Allia begitu keluar.</p>
<p class="MsoBodyTextIndent">Kim masuk dan beberapa menit kemudian keluar dengan buku terbuka. Di sana tampak tulisan-tulisan yang dicatat oleh Kim. Keningnya berkerut. Aku tahu harus memberinya waktu.</p>
<p class="MsoBodyTextIndent">Di pinggir sungai, Kim mulai membacakan hasilnya.</p>
<p class="MsoBodyTextIndent">“Ini benar-benar fantastik, teman-teman. Dengarlah….”</p>
<p class="MsoBodyTextIndent">Kami mendengar Kim tanpa ingin menyela. <span lang="FR">Aku merasakan misteri yang mempesona dari cerita-cerita itu. Sulit dipercaya memang. Di alam lain bumi ini ada kehidupan lain yang tidak kita duga seperti apa bentuknya. </span>Bahkan kita hidup berdampingan membangun peradaban.</p>
<p class="MsoBodyTextIndent">Jutaan tahun sebelum manusia pertama diciptakan, kehidupan itu telah ada. Lalu apakah kehidupan itu memang masih berlangsung hingga kini? Entahlah.</p>
<p class="MsoBodyTextIndent">“Subhanallah, Alquran telah menceritakan semuanya. Bahkan Allah telah menciptakan jin sebelum Adam. Ada banyak makhluk yang hidup di bumi ini sejak bumi ini diciptakan. Tapi tidak ada yang seindah manusia. Dan Allah telah meninggikan derajat manusia dibanding makhluk Allah lainnya.”</p>
<p class="MsoBodyTextIndent">Kami saling melirik mendengar kata-kata Allia. Tapi tak seorang pun dari kami yang ingin membantahnya.</p>
<p class="MsoBodyTextIndent">“Kitabmu mengatakan itu?” Tanyaku padanya.</p>
<p class="MsoBodyTextIndent">Allia mengangguk. Mata hijau kelabunya berbinar.</p>
<p class="MsoBodyTextIndent"><span lang="FR">“Penelitian-penelitian ini semuanya dari bermula dari alquran. </span>Allah memerintahkan manusia untuk berjalan di bumi agar kita memperhatikan bagaimana Allah memulai penciptaan.”</p>
<p class="MsoBodyTextIndent">Kami semua terdiam. Bahkan Steve pun tercengang.</p>
<p class="MsoBodyTextIndent">“Sekarang pertanyaannya, apa yang terjadi pada mereka?” Emily mengajukan pertanyaan kritis.</p>
<p class="MsoBodyTextIndent">“Dan dimana mereka?” lanjutnya lagi.</p>
<p class="MsoBodyTextIndent">Hening. Aku tidak bisa menjawabnya. Kulirik Allia. Angin mengibarkan kerudung lebarnya. Dia tersenyum.</p>
<p class="MsoBodyTextIndent">“Penelitian ini belum berakhir, Emmy.”</p>
<p class="MsoBodyTextIndent">
<p class="MsoBodyTextIndent" style="text-align:center;text-indent:0;" align="center">*****</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ruangkami.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ruangkami.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ruangkami.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ruangkami.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ruangkami.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ruangkami.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ruangkami.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ruangkami.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ruangkami.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ruangkami.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ruangkami.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ruangkami.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ruangkami.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ruangkami.wordpress.com/4/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ruangkami.wordpress.com&amp;blog=5381656&amp;post=4&amp;subd=ruangkami&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ruangkami.wordpress.com/2008/11/05/setapak-cahaya-di-belantara/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2980b9842e50f86f5f31c4ab319f88a6?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">ruangkami</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
